Abstract
Background: Language plays a vital role in human interaction and has evolved beyond direct communication to convey messages through public spaces, known as the Linguistic Landscape (LL). The presence of LL varies across regions, from being highly visible to nearly absent. Aims: This study aims to analyse the conceptual and functional aspects of public space naming in Shah Alam, Selangor, using a linguistic landscape approach to understand how language shapes identity and social function in urban settings, employing a landscape linguistics perspective. Methods: This study used a qualitative descriptive method, where researchers directly describe the concept of naming in public space in Shah Alam city, Selangor, Malaysia, using the theoretical framework of Linguistic Landscape. The data were collected through direct field observation without involving interviews or informants. The analysis process involved data reduction, categorisation, contextual interpretation, and inductive drawing of conclusions. Visual triangulation and comparative site observation were employed to enhance the validity of the data. Results: The findings in this research reveal that the naming of public spaces can be classified based on informational functions. Symbolically, street naming reflects dynamics of power, cultural relationships, and language policy; office signage indicates aspects of language policy and status, while public signs expose elements of linguistic imperialism. The collected data include diverse types of linguistic signage: three instances of street naming, one city motto, two public information boards, two examples of office naming, two prohibition signs in public transport, and two signs designated for specific user groups. Implications: The implications of this research are twofold. Theoretically, these findings enrich the study of Linguistic Landscape. Practically, they offer insights into language planning and naming policies in multilingual public spaces.Latar belakangBahasa memainkan peran penting dalam interaksi manusia dan telah berkembang melampaui komunikasi langsung untuk menyampaikan pesan melalui ruang publik, yang dikenal dengan Linguistic Landscape (LL). Kehadiran LL bervariasi antar wilayah, mulai dari yang sangat terlihat hingga hampir tidak adaTujuanPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek konseptual dan fungsional penamaan ruang publik di Shah Alam, Selangor, dengan menggunakan pendekatan lanskap linguistik untuk memahami bagaimana bahasa membentuk identitas dan fungsi sosial di perkotaan, menggunakan perspektif linguistik lanskap. MetodePenelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dimana peneliti mendeskripsikan langsung konsep penamaan pada ruang publik di Kota Syah Alam, Selangor, dengan menggunakan kerangka teori Linguistic Landscape. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung ke lapangan tanpa melibatkan wawancara atau informan. Proses analisisnya meliputi reduksi data, kategorisasi, interpretasi kontekstual, dan penarikan kesimpulan secara induktif. Triangulasi visual dan observasi lokasi komparatif digunakan untuk meningkatkan validitas data. HasilTemuan penelitian ini mengungkapkan bahwa penamaan ruang publik dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi informasinya. Secara simbolis, penamaan jalan mencerminkan dinamika kekuasaan, hubungan budaya, dan kebijakan bahasa; Papan tanda kantor menunjukkan aspek kebijakan dan status bahasa, sedangkan tanda umum memperlihatkan unsur imperialisme linguistik. Data yang dikumpulkan mencakup beragam jenis rambu linguistik: tiga contoh penamaan jalan, satu semboyan kota, dua papan informasi publik, dua contoh penamaan kantor, dua rambu larangan di angkutan umum, dan dua rambu yang diperuntukkan bagi kelompok pengguna tertentu. ImplikasiImplikasi dari penelitian ini ada dua. Secara teoritis, temuan ini memperkaya kajian Lanskap Linguistik. Praktisnya, mereka menawarkan wawasan mengenai perencanaan bahasa dan kebijakan penamaan di ruang publik multibahasa.
Cite
CITATION STYLE
Qulub, M. F., Hamidi, S. R., & Fika Burhan Tajalla. (2025). Negotiating space through names: A linguistic landscape perspective on toponymic practices in Shah Alam, Selangor. Al-Lisan, 10(2), 225–242. https://doi.org/10.30603/al.v10i2.6527
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.