Abstract
Hipertensi resisten didefinisikan sebagai tekanan darah yang tetap ≥140/90 mmHg meskipun telah menggunakan tiga obat antihipertensi dari kelas yang berbeda pada dosis optimal. Tinjauan penelitian ini merangkum etiologi, prevalensi, mekanisme patofisiologi, diagnosis, dan tata laksana hipertensi resisten. Sumber berasal dari basis data PubMed dan Scopus. Pencarian dilakukan menggunakan kata kunci “resistant hypertension”, “diagnosis”, dan “management” dengan rentang publikasi tahun 2015–2025. Hipertensi resisten dapat disebabkan oleh hipertensi sekunder, multifaktorial, dan obesitas. Perkiraan prevalensi sekitar 10% di antara populasi dengan hipertensi, dengan angka yang lebih tinggi pada pasien penyakit ginjal kronis. Mekanisme patofisiologi mencakup hiperaktivitas simpatis, perubahan penanganan natrium ginjal, aktivasi sistem renin, angiotensin, dan aldosteron, serta sensitivitas garam secara genetik. Diagnosis memerlukan pengecualian pseudo-resistensi melalui pengukuran tekanan darah yang akurat, penilaian kepatuhan pasien, dan pemantauan tekanan darah ambulatori, diikuti dengan skrining terarah terhadap penyebab sekunder. Tata laksana mengintegrasikan intervensi non-farmakologi seperti diet DASH, pembatasan natrium, aktivitas fisik teratur, dan pengurangan stres berbasis mindfulness. Intervensi farmakologi meliputi diuretik, antagonis reseptor mineralokortikoid, dan agen baru. Pengenalan dini dan penatalaksanaan komprehensif sangat penting untuk menurunkan risiko kardiovaskular dan meningkatkan luaran klinis pasien.
Cite
CITATION STYLE
Urfani, G. D., & Laksono, S. (2025). Hipertensi Resisten: Apa yang Perlu Diketahui, Fokus pada Diagnosis dan Tata Laksana. Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains, 7(2), 120–127. https://doi.org/10.29313/jiks.v7i2.6582
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.