Abstract
Masyarakat Tengger di Desa Ngadas Kabupaten Malang selama ini hidup rukun walaupun warganya menganut tiga agama: Islam, Budha, dan Hindu. Nilai kerukunan tersebut secara turun temurun diwariskan melalui cerita lisan yang terpelihara di Desa Ngadas tersebut. Penelitian ini mengkaji pesan dalam cerita Roro Anteng-Joko Seger dan cerita Setya-Setuhu versi Desa Ngadas Malang. Pendekatan hermeneutik terhadap dua cerita ini menemukan bahwa dalam cerita lisan tersebut memiliki pesan- pesan kerukunan. Cerita Roro Anteng-Joko Seger menyimpan pesan agar setiap orang membalas kebaikan yang orang lain. Cerita ini melahirkan Upacara Kasada dan tradisi “gentenan” pada masyarakat Tengger. Adapun cerita Setya-Setuhu menjadi asal usul tradisi Karo untuk memperingati kematian kedua tokoh tersebut yang berselisih paham. Cerita ini menggambarkan pesan moral agar manusia menghindari konflik dengan cara menghargai perbedaan dan tidak merasa benar sendiri dalam bermasyaraka
Cite
CITATION STYLE
Haryanto, J. T. (2016). PESAN KERUKUNAN CERITA LISAN MASYARAKAT TENGGER DESA NGADAS KABUPATEN MALANG. SMART, 2(2), 131. https://doi.org/10.18784/smart.v2i2.389
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.