ANALISIS KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL LAYLA MAJNUN KARYA SYEKH NIZAMI KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA

  • Akbar R
  • Chanafiah Y
  • Sarwono S
N/ACitations
Citations of this article
76Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

ANALISIS KONFLIK BATIN PADA TOKOH UTAMADALAM NOVEL LAYLA MAJNUN KARYA SYEKH NIZAMIKAJIAN PSIKOLOGI SASTRA  1Redho Akbar; 2Yayah Chanafiah; 3Sarwit Sarwono Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bengkulu Korespondensi: Redhoakbar98@gmail.com AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan konflik batin yang dialami pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun, (2) mendeskripsikan faktor-faktor penyebab konflik batin yang dialami pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun. Data dalam penelitian ini adalah konflik batin yang dialami pada tokoh utama yang ada di dalam novel Layla Majnun. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel karya Syekh Nizami, dengan judul Layla Majnun. Novel tersebut diterbitkan oleh DIVA Press pada tahun 2020 dengan jumlah halaman 223 lembar. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi sastra yang berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra dan juga menggunakan alat bantu penafisran yaitu hermeneutika Wilhem Dilthey. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik membaca dan mencatat, sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut. (1)Konflik batin pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun adalah pertentangan antara pilihan tidak sesuai dengan keinginan, kebimbangan dalam mengadapi permasalahan, dan harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, (2) Akhir dari konflik batin Majnun dan Layla, (3)Faktor sosial penyebab konflik batin yang dialami tokoh utama dalam novel Layla Majnun adalah tradisi dan kebiasaan dari keluarga Layla.  Kata Kunci: Novel Layla Majnun, Konflik Batin, Akhir Konflik Batin, Faktor Konflik Batin  AbstractThis research aims to (1) describe the inner conflict experienced in the main character in the novel Layla Majnun, (2) describe the causative factors of inner conflict experienced in the main character in the novel Layla Majnun. The data in this study is an inner conflict experienced in the main character in layla majnun's novel. The source of the data in this study is a novel by Sheikh Nizami, entitled Layla Majnun. The novel was published by DIVA Press in 2020 with a total of 223 pages. The type of approach used in this study is a literary psychology approach that focuses on the text or choice of words used by the author in literary works and also uses a disclaimer tool, the hermeneutics Wilhem Dilthey. Data collection is done with reading and recording techniques, while data analysis is done with descriptive analysis techniques. The results of this study can be Outlined as follows. (1) The inner conflict in the main character in Layla Majnun's novel is the conflict between choices not in accordance with desire, doubt  in the face of problems, and expectations that do not correspond to reality, (2) Finally the inner conflict of Majnun and Layla, (3) The social factors that cause inner conflict                                                       Redho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono  experienced by the main character in Layla Majnun’s novel are the traditions and custom of the Layla family. Keywords: Layla Majnun Novel, Inner Conflict, End of Inner Conflict, Inner Conflict Factor  PENDAHULUANSastra adalah bagian dari entitas budaya yang praktiknya tercermin dalam karya-karya sastra. Semua kebudayaan dan peradaban di dunia mengalami suatu periode perubahan yang mendalam (Peursen, 1990:72), termasuk kebudayaan dan peradaban bangsa Arab dengan segala totalitasnya. Liaw Yock Fang (dalam Sugiartoputri, 2009:3) berpendapat bahwa sastra Islam tersebut mempunyai ciri khas, yakni sebagian besar berupa terjemahan atau saduran yang berasal dari bahasa Arab atau Parsi dan hampir semua karya ini tidak diketahui nama pengarang atau tarikh penulisnya.Liaw Yock Fang (dalam Sugiartoputri, 2009:3) juga membagi sastra zaman Islam ke dalam beberapa kategori, yakni cerita Al-Quran, cerita Nabi Muhammad, cerita sahabat nabi Muhammad, cerita pahlawan Islam, dan sastra Kitab. Selain itu, menurut Liaw Yock Fang (dalam Sugiartoputri, 2009:3), kajian tentang Al-Quran, tafsir, tajwid, arkan ul-Islam, usukuddin, fikih, ilmu sufi, ilmu tasawuf, tarikat, zikir, rawatib, doa, jimat, risalah, wasiat, Bab An-Nikah dan kitab tib (obat-obatan, jampi-menjampi) dapat digolongkan ke dalam sastra kitab. Melalui sastra kitab, pengguna naskah dapat menambah pengetahuan keagamaan mereka. Oleh karena itu, karya sastra yang bercorak Islam banyak yang berasal dari Persia. Jika dalam puisi dikenal Gazhal, nazam, bayt, qit’ah dan lain-lain. Sedangkan dalam bentuk prosa dijumpai dalam sastra berbingkai. Salah satu jenis sastra berbingkai adalah hikayat seribu satu malam.  Cerita-cerita yang terdapat di dalam hikayat seribu satu malam yang sangat populer dan dingat oleh masyarakat di seluruh dunia, termasuk di Melayu adalah Aladin, Ali Baba, Abu Nawas, Layla Majnun, dan lain-lain.Layla Majnun di Indonesia, pernah ditulis oleh Hamka dan diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1932, tebalnya 74 halaman. Kemasyuran kisah Layla Majnun ini juga telah memberikan inspirasi kepada sutradara kondang Indonesia, Sjumandjaja, untuk membuat cerita layar lebar. Tahun 1975, dibuatlah film dengan judul Layla Majnun dengan bintang utama Rini S Bono sebagai Layla dan Ahmad Albar sebagai Majnun. Film ini mengantongi penghargaan untuk kategori aktor pembantu bagi Farouk Afero pada festival film Indonesia 1976 (Purwantari, 2004).Layla Majnun adalah salah satu kisah yang populer dalam dunia Islam. Selama lebih dari seribu tahun beragam versi dari kisah tragis ini telah muncul dalam bentuk prosa, puisi, dan lagu dalam hampir semua bahasa di Negara-negara Islam Timur. Meski demikian, sajak epik Nizami lah yang menjadi dasar. Nizami seorang penyair Persia, ditugaskan untuk menulis Layla Majnun oleh penguasa Kaukasia, Shirvanshah, pada tahun 1188 Masehi (1141-1209).  Shirvanshah memuji Nizami sebagai “penyair dengan keelokan kata-kata terhebat di dunia”, lalu meminta Nizami untuk menulis sebuah epik romantik atau syair (disusun dalam gaya bahasa puitis yang dikenal dengan masnawi) yang diambil dari cerita rakyat Arab, kisah mengenai Qays yang telah melegenda, sang penyair yang “gila cinta” dan Layla gadis padang pasir yang kecantikannya sangat terkenal Nizami (dalam Rahayu, 2014:82).   Analisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra Majnun itu gelarnya, nama aslinya adalah Qays Ibnu Mulawwih. Majnun satu akar kata dengan Jin. Jika di terjemahkan langsung, Majnun adalah orang yang kesurupan Jin atau orang yang gila karena cinta. Sedangkan nama Qays dalam Islam memiliki makna perbandingan, kekuatan, ketegasan, tinggi hati. Ini dimaknai agar nantinya bayi laki-laki menjelma menjadi bayi yang istimewa, tangguh, dihormati, dan bijaksana. Sementara Layla secara akar kata itu artinya malam. Selain itu juga, nama Layla karena matanya sangat indah, hitam pekat seperti malam.Berdasarkan kesimpulan di atas mengenai kejiwaan Qays merupakan salah satu konflik yang dapat dikaji melalui aspek psikologi sastra. Jatman (dalam Endraswara, 2008:97) berpendapat bahwa karya sastra dan psikologi memiliki pertautan yang erat, secara tak langsung dan fungsional. Pertautan tak langsung karena antara baik sastra maupun psikologi memiliki objek yang sama yaitu kehidupan manusia. Memiliki hubungan fungsional karena sama-sama mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Hal yang membedakan adalah, jika dalam psikologi gejala tersebut rill, sedangkan dalam sastra bersifat imajinatif.Novel Layla Majnun dipilih dalam penelitian ini karena sangat menarik untuk dikaji. Selain karena novel ini merupakan novel terlaris National Best Seller yang diterbitkan oleh Oase pada tahun 2008. Dan yang diterbitkan oleh Babul Hikmah mendapatkan julukan International Best Seller. Kelebihannya terletak pada ceritanya yakni penderitaan batin yang dialami oleh Majnun dan Layla selaku tokoh utama. Penderitaan batin yang dialami tokoh utama, mengalami penyimpangan dari manusia yang normal pada umumnya.Novel Layla Majnun  merupakan kisah cinta Majnun dan Layla. Kisah cinta mereka yang bukanlah seperti kisah biasanya yang bersifat duniawi yang tidak banyak memuji kecantikan wanitanya secara batin ataupun memujanya dan rela berkorban untuk cintanya seperti kisah cinta yang ada. Kisah cinta mereka merupakan kisah cinta begitu dahsyat sepanjang masa yang menggambarkan betapa besarnya kekuatan cinta Qays/Majnun kepada Layla, sehingga indera matanya, pikiran, perasaan, dan imajinasinya terpengaruh. Matanya menjadi buta, akalnya menjadi terganggu, pikirannya menjadi kacau, semuanya tertuju kepada satu yakni cintanya kepada Layla. Dalam hidupnya ada Layla, harta, jabatan penghormatan, semuanya menjadi sirna karena cintanya kepada Layla. Qays rela hidup menderita demi mempertahankan cinta tersebut. Begitu pun sebaliknya dengan Layla. Kisah cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan, namun kisah cinta mereka terhalang kesombongan orang tua Layla yang lebih memihak tradisi dibandingkan kebahagiaan seorang anak.Perbedaan Majnun dan Layla terlihat ketika tidak bisa berbuat seperti Majnun dalam melampiaskan rasa cintanya. Adat dalam masyarakat Arab melarang perempuan yang sudah baligh bermain-main di luar rumah, apalagi menjalin asmara. Perempuan tersebut harus memasuki masa-masa pemingitan yang nantinya akan dilepas ketika ayahnya menjodohkan dengan lelaki yang tepat pilihannya. Layla lebih menderita daripada Majnun. Pada akhirnya kisah cinta mereka tak sampai, penuh dengan penderitaan yang dijalani Majnun dan Layla. Penderitaan yang dijalani oleh Majnun dan Layla, akan sangat menarik apabila dikaji secara pendekatan sastra yaitu pendekatan psikologi sebagai alat bantu, yang berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra. Pendekatan ini digunakan karena sesuai dari tujuan penelitian yaitu untuk menggambarkan konflik batin tokoh utama dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami. Redho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono  Peneliti juga menggunakan hermeneutika Wilhem Dilthey sebagai alat bantu dalam menafsirkan kembali novel Layla Majnun untuk mempermudah, memahami apa yang sedang terjadi pada novel tersebut.Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengambil penelitian terhadap novel Layla Majnun karya Syekh Nizami dengan judul analisis konflik Batin pada Tokoh Utama dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami Kajian Pskologi Sastra, yang berfokus pada konflik batin dan faktor penyebab terjadinya konflik batin yang dialami Majnun dan Layla. METODEMetode yang digunakan adalah penelitian kualitatif yaitu untuk memahami fenomena didapat  subjek penelitian, seperti watak, perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain. Sebagaimana dijelaskan oleh Strauss dan Corbin (dalam Syamsuddin dan Damaianti, 2007:73) metode penelitian kualitatif juga dapat dimaksudkan sebagai suatu jenis penelitian dimana penemuan teori atau ukuran statistik tidak dapat diperoleh. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2011:4) menyatakan metodologi kualitatif adalah suatu sistem yang menghasilkan data deskriptif. dalam bentuk kata-kata yang tersususun atau diungkapkan dari perilaku yang diamati.Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi sastra berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra. Pendekatan ini digunakan karena sesuai dari tujuan penelitian yaitu untuk menggambarkan konflik batin tokoh utama dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami. Dalam hal ini, penulis juga menggunakan alat bantu hermeneutika Wilhem Dilthey, hermeneutika yang dijelaskan dalam penelitian ini juga memberikan manfaat tentang hal menafsirkan kembali karya sebelumnya seperti salah satunya pada novel Layla Majnun untuk mempermudah memahami apa yang sedang terjadi pada novel tersebut  yaitu pembahasan berkaitan dengan konflik batin yang dialami pada tokoh utama.Data dalam penelitian ini adalah konflik batin yang dialami pada tokoh utama yang ada di dalam novel Layla Majnun. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel karya Syekh Nizami, dengan judul Layla Majnun. Novel tersebut diterbitkan oleh DIVA Press pada tahun 2020 dengan jumlah halaman 223 lembar.Teknik pengumpulan data digunakan yaitu teknik  membaca dan catat. Teknik membaca adalah teknik untuk menemukan suatu informasi untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Agar dapat menemukan informasi yang dicari secara cepat dalam novel Layla Majnun, biasanya pembaca menggunakan petunjuk-petunjuk seperti, buku-buku yang relevan untuk membantu penelitian dalam mengkaji konflik batin, psikologi sastra dan hermeneutika. Teknik catat adalah pencatatan informasi yang diselesaikan dengan catatan sesuai dengan kepentingannya (Subroto, 1992:42). Dalam metode pencatatan, peneliti mencatat informasi yang ditemukan dalam laporan pencatatan data-data yang berupa konflik batin dan kajian psikologi sastra pada novel Layla Majnun. HASIL DAN PEMBAHASANPenelitian ini, peneliti terlebih dahulu menguraikan unsur pembangun struktur karya sastra yang meliputi: fakta-fakta cerita (alur, karakter atau penokohan, latar, dan tema).  Analisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra AlurTahapan situasion (penyituasian). Pada tahap ini pengarang mulai menggambarkan keadaan keluarga Qays. Syed Omri adalah ayah Qays yang sangat menantikan kelahiran Qays. Di usia senjanya barulah dia mendapatkan Qays. Kehadiran Qays banyak membawa perubahan dalam hidupnya. Syed Omri sangat  bahagia dan menjadi seorang yang lebih dermawan. Pada bagian ini juga dikisahkan tentang pertemuan Qays dan Layla di sekolahnya, gadis yang membuatnya tergila-gila. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:“Qays sendiri sejak pertama kali menatap wajahnya, jiwanya langsung bergetar. Ia  bagaikan merasakan bumi bergetar kencang, hingga merenggut hasratnya untuk menuntut ilmu. Qays belum pernah melihat keindahan yang memesonakan laksana kecantikan Layla. Ia sungguh telah jatuh cinta pada mawar jelita, Layla.” (LM, 2020:13). Cerita kemudian dilanjutkan ke tahap genering circumtances. Pada tahap ini, merupakan tahap awal muncul konflik dan konflik itu sendiri akan berkembang. Ketika Qays dan Layla asyik memadu cinta, tanpa disadari, mereka telah menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Pada akhirnya, kabar itu sampai kepada ayah Layla. Mendengar anak gadisnya menjadi buah bibir banyak orang, akhirnya untuk menghindari aib keluarga maka Layla dipingit.  Ayah Layla pindah ke Lembah Nejd. Layla yang sudah jauh dari Qays merasa dirinya tersiksa. Hasrat hatinya ingin bertemu dengan Qays. Rasa cintanya semakin mendalam. Sejak perpisahan itu jiwa Qays juga terguncang. Dia merasa bersalah karena dirinya Layla dipingit. Jiwanya sangat merindukan Layla. Qays pun mengembara mencari Layla sambil melantunkan syair-syair cintanya. Orang yang melihatnya ada yang sedih dan ada pula yang menganggapnya gila. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini:“Qays tidak menghiraukan apa kata orang, ia terus berjalan, berbicara dan bersyair memuji pesona kekasihnya. Qays juga tidak peduli bocah-bocah yang sering kali mengikuti dan menirukan gerak-geriknya. Hingga orang-orang tersebut lupa akan nama Qays, mereka lebih mengenalnya sebagai Majnun, si gila.” (LM, 2020:34). Tahap rising action (peningkatan konflik). Syed Omri berusaha untuk meminangkan Layla untuk Majnun, anaknya. Namun, dengan perkataan yang menyinggungkan dan keras ditolak  oleh ayah Layla. Ia tidak ingin menikahkan anaknya dengan orang gila. Naufal juga berusaha untuk mempersatukan Majnun dan Layla. Untuk itu, ia rela berperang melawan kabilah ayah Layla. Ia sudah memenagkan peperangan itu, namun ayah Layla tidak mau memberikan Layla untuk Majnun, si gila. Menikahkan Layla dengan Majnun sama dengan menikah dengan kehinaan dan aib keluarga. Mendengar pengakuan orang tua malang itu Naufal menjadi terharu. Ia tidak sanggup membunuh musuh yang tidak berdaya dan lemah. Majnun sangat kecewa pada saat mendengar keputusan Naufal. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:“Saya tidak mampu menikahkan putriku dengan keburukan dan menerima kutukan dari negeriku! Seekor anjing lebih baik daripada manusia ibkis, karena gigitan seekor anjing dapat disembuhkan, namun luka yang membusuk itu akan meninggalkan bekas selamanya.”    Redho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono  “mendengar pernyataan lelaki tua malang tersebut, Naufal menjadi terharu. Rasa bimbang pun menguasai hatinya. Ia sudah berjanji pada Majnun akan meminang Layla, tetapi ia tidak tega mendengar kata-kata orang tua yang sudah kalah itu, bagaimana mungkin ia akan mampu membunuh musuh yang telah terluka dan tidak berdaya? Bagaimana mungkin ia akan bisa menyakiti lelaki tua yang sudah sekarat? Pantang baginya melukai musuh yang tidak berdaya.” (LM, 2020:118). Tahap climax (puncak kejadian konflik). Pada tahap ini peristiwa-peristiwa mencapai titik intensitas. Kegilaan Majnun semakin memuncak ketika ia mengetahui kabar pernikahan Layla dengan Ibnu Salam. Qays berprasangka Layla tidak setia terhadap dirinya. Padahal, walaupun Layla sudah menikah dengan Ibnu Salam, namun tidak sedikit pun Layla biarkan menyentuh dan merenggutnya. Layla mengatakan bahwa pernikahan tersebut ialah keinginan ayahnya bukan keinginannya. Jadi, raga dan jiwa atas cintanya hanya untuk Majnun seorang. Hal ini tergambarkan pada kutipan berikut:“Dengan suara menyayat dan terdengar lebih menyedihkan dari sangkakala maut, Laylla berucap, “apakah engkau berharap bisa memilikiku? Wahai, Tuan, sadarilah, perkawinan ini merupakan keinginan ayahandaku, bukan keinginanku sendiri! Sedikit pun aku tidak berharap untuk melakukan perbuatan yang aku benci. Aku tidak ingin menjadi seorang pengkhianat. Daripada melakukan tindakan yang aku benci lebih baik darahku menodai pedangmu.” “Saya tidak mau mengkhianati cintaku. Aku pun tidak sudi mengotori jiwaku hingga noda hitam akan melekat di keningku. Duhai, Tuan, janganlah engkau membayangkan dan berusaha untuk mendapatkan sebuah hati yang ditakdirkan bergelimang penderitaan. Dalam hati ini sudah terukir satu nama. Ia tidak bisa digantikan oleh apa dan siapapun. Walaupun emas dan permata ditaburkan untuk menyilaukan pandangan mata, namun jiwa yang penuh cinta tidak akan pernah terlena oleh kemewahan duniawin.” (LM, 2020:130). Cerita dilanjutkan ke tahap denounment (penyelesaian). Konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian.  Penyelesaian masalah ini berakhir dengan kematian, yaitu kematian Ibnu Salam, Layla, dan Majnun. Sebelumnya, pengarang novel Layla Majnun menggambarkan tentang kematian Ibnu Salam yang membawa perubahan pada diri Layla. Sekarang Layla bebas menentukan nasibnya.  Karakter Tanpilan FisikPada bagian ini, Qays dan Layla merupakan tokoh utama yang merupakan keturunan kaum bangsawan. Mereka berdua memiliki wajah tampan rupawan serta cantik jelita. Hal ini tergambarkan pada kutipan berikut:“Seiring berganti hari, tahun pun berbilang, Qays tumbuh dan berkembang menjadi lelaki yang dapat dibanggakan orang tuanya. Wajahnya tampan rupawan, tubuhnya tinggi semampai bak pilar-pilar yang kokoh, dan suaranya merdu laksana buluh perindu”. (LM, 2020:11).  Analisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra “Di antara anak asuh sang guru, terdapat gadis cantik nan rupawan berusia belasan tahun. Parasnya anggun memesona, lembut budi bahasanya, dan penampilannya amat bersahaja. Gadis ini bersinar terang laksana cahaya mentari pagi, tubuhnya bak biola, dan bola matanya hitam laksana mata rusa. Rambutnya hitam tebal bergelombang”. (LM, 2020:12). Pengarang Secara Langsung Mendeskripsikan Karakter Tokohnya Qays atau MajnunSebelum menjadi gila/Majnun, namanya adalah Qays. Qays adalah seorang pemuda tampan dan cerdas, tubuhnya kuat dan suaranya merdu. Qays digambarkan seorang pria yang sempurna. Walaupun gila, sebenarnya Majnun adalah tokoh protagonis. Banyak orang-orang yang menyukai syair-syair Majnun dan banyak orang yang memuji-muji kesetian Majnun. Selain itu, Qays digambarkan tidak memiliki motivasi, tidak lagi merawat dirinya sendiri, Qays bahkan lebih memilih tinggal di alam para binatang buas daripada tinggal di rumahnya sendiri yang sangat mewah. LaylaLayla adalah seorang gadis yang cantik lembut dan anggun. Layla juga digambarkan juga sebagai orang yang pasrah pada takdir, ia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya tangisanlah yang ia keluarkan seperti yang terdapat pada kutipan berikut ini:“Diantara hiruk pikuk kegembiraan para tamu, sanak keluarga, sahabat dan kerabat, Layla duduk menyendiri. Raut mukanya memancarkan duka. Sorot matanya menampakkan kepasrahan. Desah ketak berdayaan pun terdengar dari hela nafasnya. Seakan awan hitam menutupi parasnya nan lembut. Dadanya bergejolak oleh beban berat. Setitik air mata menetes dari matanya nan jernih.” (LM, 2020:128). Syed OmriSyed Omri merupakan kepala dari kabilah Bani Amir. Ia juga merupakan ayah dari Qays. Ia adalah seorang yang beribawa. Namanya sudah dikenal dimana-mana, baik negeri sendiri hingga sampai ke negeri lain. Syed Omri terkenal dengan kedermawanannya, ia menjadi penegak keadilan bagi setiap kaum peminta suaka dan teraniaya. Syed Omri juga sangat taat dalam melakukan beribadah serta ia juga suka memberikan hartanya kepada kaum papa. Ini kelebihan yang dimilikinya sehingga ia menjadi tokoh protagonis yang selalu diagung-agungkan orang. Syed Omri juga seorang yang perhatian kepada putranya. Ayah LaylaAyah Layla dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami, yang merupakan keturunan dari Bani Qhatibiah. Watak yang bertentangan dengan tokoh utama dalam cerita ini menjadi tokoh antagonis. Wataknya yang keras pada pendiriannya ditambah lagi dengan rasa sakit hati akibat nama anaknya yang selalu disebut oleh orang gila. Membuat amarah tokoh ini memuncak dan dengan tegas menolak lamaran anaknya yang diajukan oleh ayah Qays.    Redho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono  Ibnu SalamIbnu Salam dalam novel  Layla Majnun karya Syekh Nizami, yang merupakan suami dari Layla yang dijodohkan untuk menghindari rasa malu dan aib keluarga. Ibnu Salam merupakan seorang pemuda gagah, manis tutur katanya, baik, sopan, ramah, tidak sombong, memiliki kemauan yang kuat dan rupawan dari Bani Asad. Selain itu juga, Ibnu Salam sangat pengertian apa yang dirasakan oleh istrinya yakni Layla. Ia rela tidak menjamaah istrinya demi kebahagiaannya, walaupun Ibnu Salam sudah sah untuk melakukannya. Sebab ia tahu, cintanya lebih besar kepada Qays dan tiada tergantikan. LatarLatar sosial dalam cerita novel Layla Majnun tergambar dari kelompok sosial masyarakat yang bersifat kesukuan yang dipimpin oleh seorang ketua kabilah, ini bisa dilihat melalui ayahnya Qays. Yakni Syed Omri, selain itu juga dapat dilihat melalui Naufal sebagai kepala kabilah Arab Latar tempat dalam cerita Layla Majnun tergambar seperti sekolah, rumah, istana, penjara, pusara, Makkah, Mina, lembah Hijaz, lembah Wadiyain, lembah Nejd, hutan belantara taman bunga, sungai eufrat, gurun sahara, bukit dan gua. Latar waktu dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami ini juga berkaitan latar tempat hal ini tergambarkan pada kutipan-kutipan berikut:“Kegelapan menjadi menyelimuti malam, sangat pekat dan hitam laksana jiwa majnun yang kelam. Majnun mengenang kekasihnya dari dalam gua nan kotor di lembah wadiyain. Dari lidahnya meluncur syair-syair kisah cinta mereka.” (LM, 2020:132). Dari kutipan di atas menujukkan bahwa Majnun yang berada di gua wadiyain pada malam hari yang sangat  merinduhkan kekasihnya Layla. Majnun terus berharap hingga melantungkan syair-syair kisah cinta mereka. TemaTema sentral terdapat pada novel Layla Majnun karya Syekh Nizami yaitu kasih tak sampai, yang berujung pada kematian. Kisah ini diawali oleh perasaan cinta yang menggila dari seorang pemuda tampan, gagah dan penuh wibawa yang terkenal di kawasan kabilah bani Amir, Jazirah Arab bernama Qays. Dia mencintai seorang wanita dari kabilah lain yaitu kabilah Qhatibiah yang tidak kalah terkenal, seorang wanita yang memiliki cahaya rembulan, dia bernama Layla. Mereka menjalin kisah cinta secara sembunyi, karena pada waktu itu belum saatnya untuk mereka berdua menjalin cinta. Kisah cinta mereka tidak mendapatkan restu. Pada akhirnya mereka tidak bisa bertemu lagi.Lama mereka tidak bertemu, Qays sang pemuda tidak kuat menahan rasa cinta kian hari kian membara. Dia pun menjadi gila. Dia bertingkah dan berpenampilan aneh, hingga orang-orang menertawakan dan mencemoohnya, semua orang memanggil Qays dengan sebutan Majnunang tawanya selalu diiringi dengan melantunkan cinta untuk sang kekasihnya Layla. Syair cintanya menyebar dari mulut kemulut dan akhirnya sampai terdengar di telinga Layla.Mendengar syair cinta begitu menyayat dari kekasihnya yang telah menjadi gila, Layla hanya bisa menangis dalam pingitan ayahnya sendiri. Layla harus menyembunyikan kesedihannya dari semua orang. Hingga Majnun semakin gila,       jAnalisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra semakin kehilangan pikiran dan hatinya.Hingga pada akhirnya suatu peristiwa yang terjadi, yaitu peristiwa yang membuat hatinya sangat terluka, bahkan menjerit. Lebih dari lukanya ketika kehilangan ayah dan ibunya yakni, ketika Majnun mendengar kabar bahwa Layla akan meninggal karena penyakitnya. Majnun segera pergi berserta sahabat binatangnya layaknya mengikuti tuannya. Majnun dan sahabatnya pergi ke menziarahi makam Layla. Lalu menangis sedemikian menjerit. Dia memeluk tanah kuburan Layla hingga Majnun menghembuskan nafas terakhirnya di sana. Ia meninggal sambil memeluk kuburan Layla.  Konflik Batin yang Dialami Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh NizamiPada pembahasan pertama dalam penelitian ini adalah mengenai konflik batin tokoh utama dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami. Konflik batin tokoh utama merupakan tujuan utama dalam penelitian ini, yang berhubungan dengan penderitaan yang dialami Qays dan Layla yang tidak mendapatkan restu dari orang tua Layla yang lebih memihak tradisi dibangdingkan kebahagiaan anaknya. konflik batin yang dialami ini yaitu:Pertentangan antara pilihan tidak sesuai dengan keinginan, Konflik batin yang dialami oleh tokoh Qays dan Layla dilihat dari sudut pandang erlebis (pengalaman yang hidup). erlebis merupakan penjiwaan dan suka duka atas kehidupan yang dijalani Konflik batin yang dialami oleh tokoh Qays dan Layla dilihat dari sudut pandang erlebis (pengalaman yang hidup). erlebis merupakan penjiwaan dan suka duka atas kehidupan yang dijalani Qays dan Layla yang merupakan keturunan bangsawan dan memiliki wajah yang tampan rupawan dan cantik jelita, mereka berdua juga pandai merangkai kata-kata berupa syair.Konflik batin bermula dari pertemuan jalinan asmara tokoh utama yang dialami tidak sesuai dengan keinginan Qays dan Layla. Kisah cinta mereka terhalang oleh suatu tradisi bangsa Arab sebab masyarakat Arab melarang perempuan yang sudah baligh bermain-main di luar rumah. Ia harus memasuki masa pemingitan. Keputusan ini inisiatif ayah Layla untuk memisahkan Layla dan Qays. kecuali muhrimnya. Anak gadis tersebut menjadi hak penuh orang tuanya. Dia akan menikah dengan orang Syang menjadi pilihan ayahnya. Anak perempuan tersebut tidak berhak menentukan pilihan dan menolak keinginan ayahnya. Ia akan bebas dari masa pemingitan sampai orang tuanya menikahkannya. Hal inilah yang membuat Qays dan Layla merasa tertekan dan menderita batinnya. Keinginan Majnun kian hari ingin bersatu kembali kepada Layla, pada saat pertemuan kepala kabilah Arab yang merupakan seseorang pemuda yang pandai sekali berperang yang simpati kepada Majnun. Dia berniat menolong Majnun dengan memerangi kabilah Layla yang bernama Naufal. Naufal sangat merasa kasihan melihat Majnun yang telah lama menanti kekasihnya.  Namun, disisi lain Naufal tidak tega ketika melihat musuh lemah dan memohon ampunan. Pada akhirnya Naufal mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan peperangan lagi. Hal ini tergambarkan pada kutipan berikut:“Saya memang berhasrat untuk memenangkan peperangan tersebut. Tetapi sekarang harapan itu telah mati. Aku dan kamu sudah keluar dari medan pertempuran, meninggalkan darah mengalir dengan sia-sia di dataran yang haus darah ini. Mendengar kata-katamu, jiwaku seperti disergap ketakberdayaan”. (LM, 2020:118).  Redho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono  Keputusan itu membuat membuat Majnun semakin gila dan semakin lupa pada dirinya bahkan tidak mengenali semua yang ada sekelilingnya. Hatinya sudah hancur, harapan yang ia tanam dalam jiwanya kini luluh lantak dan musnah. Semua yang dilakukan itu sia-sia.Kebimbangan dalam menghadapi permasalahan. Hal ini dapat dilihat melalui sudut pandang austruck (ungkapan).  Ini terlihat ketika Qays kecewa atas apa keputusan ayahnya bahkan kawan-kawanya untuk memisahkan Qays dari Layla. Keputusan ini menjadi bimbang, sebab cinta yang sudah tertanam dari Ilahi akan sulit untuk dilepas. Lain halnya cinta penuh kenafsuan, akan mudah untuk dilepaskan. Qays merasa tidak ada lagi yang mampu diharapkan untuk bersama orang tua dan kerabat. Qaya merasa kediamannya sekarang bukan tempat tinggalnya.Orang-orang di sekelilingnya bukan lagi keluarga dan sanak saudara. Qays seakan-akan sesak napas dan tak tahan lama-lama berada di lingkaran api tersebut. Kemudian Qays mengangkat tangan dan merobak-robek, lalu mencampakkan pakaiannya ke tanah. Dengan luapan kemarahan yang luar biasa, Qays pun pergi menuju kegelapan.Harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Ketika Layla mengkhianati kesetiaan Qays menjaga cintanya Layla. Menikahnya Layla dengan lelaki lain yang bernama Ibnu Salam, hingga terdengar oleh Qays (Majnun). Majnun yang senantiasa menjaga kesetiaan cintanya menjadikan kehidupannya kian hari semakin menderita, Majnun masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya sehingga Layla mengkhianatinya. Harapan Qays yang akan menjadi pendamping hidupnya Layla dan setia kepadanya. Tapi kesetian itu sia-sia Layla membuat pilihan menikah dengan lelaki lain atas pilihan ayahnya sendiri. Hal ini dapat dilihat melalui sudut pandang verstehen (pemahaman).Majnun berprasangka yang terlalu berlebihan kepada Layla. Ini berkaitan apabila orang berburuk sangka berarti adalah orang yang memiliki anggapan, pendapat, atau sikap yang buruk terhadap suatu keadaan atau seseorang di mana keadaan atau seseorang tersebut sesungguhnya menunjukkan hal yang sebaliknya Nawawi (1994:463).Faktanya disisi lain Qays malah salah menilai Layla. Bahkan Layla sendiri tetap menjaga kesuciannya dari suaminya demi menjaga kesetiaan cintanya kepada Majnun. Kesetiaan dapat diartikan sebagai keteguhan hati dalam mempertahankan sebuah prinsip yang ia janjikan, seperti Layla dan Qays untuk selalu bersama walaupun rintangan dan ujian yang dihadapi oleh mereka berdua. Maka dari sinilah membuat diri Qays yang merasa bersalah kepada Layla.Dalam cerita ini. Kesalahan Layla terhadap suaminya dapat dilihat dari Layla yang terus menjaga kesucian dan tidak akan layaknya seperti suami istri. Hal ini sebenarnya merupakan suatu kewajiban Layla, sebab ia dalam status istri. Dalam konteks fiqih munakahat, kewajiban dikaitkan dengan pemenuhan hak yang dimiliki suami atau istri.“Dalam hubungan suami istri hak suami merupakan kewajiban bagi istri, dan kewajiban suami merupakan hak bagi istri.” (Syarifuddin, 2001:119).  Memahami pengertian di atas, dapat di kemukakan bahwa kewajiban dalam konteks relasi suami istri adalah tuntutan yang harus dilaksanakan oleh suami atau istri dalam rangka memenuhi hak pasangannya. Dengan demikian menjalankan kewajiban rumah tangga berarti memenuhi hak dari pasangan, baik suami atau istri.  Analisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (2007:703) dalam islam, rasa cinta sangat dihargai karena rasa cinta sesama manusia dan kepada Allah SWT adalah landasan seseorang untuk menjalankan ibadah dan dengan ikhlas mengamalkan ajarannya. Seorang pria atau wanita hendaknya mencintai karena Allah dan bukan karena nafsu semata. Menikah sebenarnya harus didasari oleh rasa cinta, karena rasa cinta inilah yang akan membuat hidup berkeluarga dan berumah tangga menjadi indah dan harmonis. Pernikahan tetaplah sah meskipun kedua pasangan menikah tanpa didasari cinta atau berdasarkan suka rasa suka. Akan tetapi pernikahan tidak boleh didasari oleh paksaan seorang wali atau orang tua kepada anaknya terutama pihak mempelai perempuan. Seseorang harus menikah atas dasar persetujuan.Pada dasarnya disisi lain orang tua juga perlu memperhatikan dan mempertimbangkan pandangan serta keinginan anak. Tujuannya agar tidak terjadi hal-hal negatif dalam rumah tangga anaknya. Karena memang  tidak seharusnya ada paksaan dari orang tua terhadap anaknya dalam menentukan pasangan hidupnya. Idealnya peran orang tua lebih ditunjukan pada tataran bimbingan  dan nasihat bagi anaknya dalam menentukan pasangan hidup berumah tangga dengan calon pasangannya menjadi hal utama yang perlu diperhatikan oleh setiap pihak. Maka itu semua menjadi sebuah permasalahan hubungan Layla maupun Ibnu Salam. Dikarenakan pernikahan berlandaskan suatu pemaksaan orang tua. Akhir dari Konflik Batin Majnun dan LaylaAkhir dari konflik yang dialami Majnun dan Layla ini berakhir dengan kematian, yaitu kematian Ibnu Salam, Layla, dan Majnun. Sebelumnya, pengarang novel Layla Majnun menggambarkan tentang kematian Ibnu Salam yang membawa perubahan pada diri Layla. Sekarang Layla bebas menentukan nasibnya. Ketika Layla mengakhiri masa berkabungnya, ia bertemu dengan Majnun. Namun, Majnun tidak sanggup melihat pesona wajah Layla. Pesona yang memabukkan itu membuat hati Majnun bergejolak dan ia lari ke dalam hutan dan tidak pernah kembali lagi. Melihat kejadian itu, Layla menjadi terpukul dan menderita. Ia merasa hidupnya kini sudah tidak ada gunanya lagi. Layla pun pergi meninggalkan dunia selamanya.Kabar kematian Layla sampai ke telinga Majnun. Majnun berlari dan bersimpuh di pusara Layla. Setiap hari Majnun menangis dan menatap di atas pusara Layla. Tidak ada lagi yang dapat dipertahankan di dunia ini setelah kematian Layla. Semakin lama suara Majnun semakin melemah, ia terus berdoa kepada sang pencipta. Sampai pada akhirnya Majnun pun ikut pergi meninggalkan dunia menyusul Layla. Faktor Sosial Penyebab Konflik Batin yang Dialami Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh NizamiDalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami. Konflik batin tokoh utama disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor sosial. Faktor sosial cerita Layla Majnun disebabkan oleh sebuah tradisi. Tradisi dalam masyarakat Arab melarang perempuan yang sudah baligh bermain-main di luar rumah dan menjadi bahan gunjingan orang. Ia harus memasuki masa pemingitan. Keputusan ini inisiatif ayah Layla untuk memisahkan Layla dan Qays. kecuali muhrimnya.Anak gadis tersebut menjadi hak penuh orang tuanya. Dia akan menikah dengan orang yang menjadi pilihan ayahnya. Anak perempuan tersebut tidak berhak menentukan pilihan dan menolak keinginan ayahnya. Ia akan bebas dari masa pemingitan sampai orang tuanya menikahkannya. Artinya, ia akan menikah dengan orang yang menjadi pilihan ayahnya. Anak perempuan tersebut tidak berhak               jRedho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono  menentukan pilihan dan menolak keinginan ayahnya. Peristiwa inilah yang menimbulkan konflik, konflik tersebut membuat batinya tersiksa pada diri Qays dan Layla.Selain itu, terdapat tradisi adat berkabung terjadi, jika suaminya meninggal, seorang istri harus menjalani masa berkabum selama 2 tahun. Dalam masa berkabung ini, seorang janda yang ditinggal suaminya tidak boleh keluar rumah. Dia tetap memakai kerudung hitam tanda berkabung dan harus menampakkan kesedihan dengan meratap dan menangis. Sehabis masa berkabung si janda tersebut bebas menetukan nasibnya. Dia bebas menentukan calon suaminya yang baru, tidak terikat pada pilihan orang tuanya. Hal ini ketika suami Layla yakni Ibnu Salam telah tiada meninggalkan dunia. KesimpulanBerdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa konflik batin yang dialami tokoh utama dalam novel Layla Majnun disebabkan oleh ketidakberpihakan ayah Layla yang lebih memihak tradisi ketimbang kebahagiaan anaknya.Menikah sebenarnya harus didasari oleh rasa cinta, karena rasa cinta inilah yang akan membuat hidup berkeluarga dan berumah tangga menjadi indah dan harmonis. Pernikahan tetaplah sah meskipun kedua pasangan menikah tanpa didasari cinta atau berdasarkan suka rasa suka. Akan tetapi pernikahan tidak boleh didasari oleh paksaan seorang wali atau orang tua kepada anaknya terutama pihak mempelai perempuan, hal ini jelas pernikahan Layla dengan Ibnu Salam suatu keterpaksaan untuk menutup aib keluarga. seharusnya peran orang tua lebih ditunjukan pada tataran bimbingan  dan nasihat bagi anaknya dalam menentukan pasangan hidup berumah tangga dengan calon pasangannya, sehingga menjadi harmonis.Kesalahan Layla disisi lain terhadap suaminya dapat dilihat dari Layla yang terus menjaga kesucian dari laki-laki lain dan tidak akan berhubungan layaknya suami istri. Hal ini sebenarnya merupakan suatu kewajiban Layla, sebab ia dalam status istri. Dalam konteks fiqih munafakat, kewajiban dikaitkan dengan pemenuhan hak yang dimiliki suami atau istri. Dalam hubungan suami istri, hak suami merupakan kewajiban bagi istri dan kewajiban suami merupakan hak bagi istri.              Analisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra DAFTAR PUSTAKA Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. 2007. Raudhatul Muhibbin (Taman Orang-Orang Yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu). Jakarta: Qisthi Press. Amir, Syarifuddin. 2001. Garis-garis Besar Fiqh. Jakarta: Prenada Media. Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta: Medpress.  Imam, Nawawi. 1994. Terjemahan Riyadush Shalihin. Jakarta: Pustaka Amini. Peursen, C. A. V. 1990. Fakta, Nilai, dan Peristiwa. Tentang Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Etika. Diterjemahkan oleh A.Sonny Keraf dari judul asli Facts, Value, Events. Jakarta: P.T, Gramedia. Moleong, L. J. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: P.T, Remaja Rosdakarya. Nizami, Syekh. 2020. Layla Majnun. Yogyakarta: Diva Press. Purwantari. 2004. “Legenda Cinta Laila Majnun” dalam harian Kompas tanggal 23 Oktober 2004. Jakarta. Rahayu, Sri. 2012. Syair Qays Dan Nayla Karya Nizami Fanzavi Dengan Novel Layla Majnun Karya Nizami Ganjavi (Kajian Intertekstualitas). Journal Mts. Ihyaul Ulum Manyar, Vol (1), Nomor 1, 81-90. Subroto. 1992. Penelitian Kualitatif.  Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sugiartoputri, Syarahsmanda. 2009. Edisi Teks Dan Analisis Naskah: Aturan Perkawinan Islam Menurut Imam Syafii Dalam Bab An- Nikah W 14. Depok: Universitas Indonesia.  Syamsuddin dan Damaianti, V. S. 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: P.T, Remaja Rosdakarya.

Cite

CITATION STYLE

APA

Akbar, R., Chanafiah, Y., & Sarwono, S. (2023). ANALISIS KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL LAYLA MAJNUN KARYA SYEKH NIZAMI KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA. Jurnal Ilmiah KORPUS, 6(2), 200–215. https://doi.org/10.33369/jik.v6i2.23060

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free