Abstract
Masalah stunting pada anak baduta masih menjadi masalah kesehatan terutama di Indonesia. Komponen penting dalam perkembangan neonatal adalah faktor status gizi bayi yang diukur dari berat badan lahir dan panjang badan lahir. Masalah gizi pada bayi baru lahir dapat meningkatkan risiko kematian, kerusakan neurologis dan kognitif, serta stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan stunting anak usia 9-23 bulan di Indonesia. Desain penelitian adalah Cross-sectional. Sampel penelitian adalah anak berusia 9-23 bulan di Indonesia. Jumlah sampel yang dianlisis 7.396 baduta. Hasil analisis menunjukkan prevalensi stunting pada anak usia 9-23 bulan sebesar 30,4 persen. Hasil analisis regresi logistik berganda menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan stunting pada baduta 9-23 bulan di Indonesia adalah BBLR (AOR 1,854; 95%CI 1,50-2,30), panjang badan lahir <48 cm (AOR 1,550; 95%CI 1,37-1,7), dan anak laki-laki (AOR 1,272; 95%CI 1,15-1,41). Kesimpulan, faktor penentu stunting pada anak baduta di Indonesia adalah BBLR, panjang badan lahir <48 cm, dan jenis kelamin anak laki-laki.
Cite
CITATION STYLE
Khasanah, D. P., Ani Margawati, Rosidi, A., Rahfiludin, M. Z., & Noer, E. R. (2024). BERAT BADAN LAHIR RENDAH DAN PANJANG BADAN LAHIR SEBAGAI FAKTOR RISIKO STUNTING PADA ANAK USIA 9-23 BULAN DI INDONESIA [ANALISIS DATA RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2018]. Penelitian Gizi Dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research), 46(2), 69–80. https://doi.org/10.36457/pgm.v46i2.778
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.