ADAPTIVE REUSE PADA GEDUNG PERTUNJUKAN DE MAJESTIC SEBAGAI BANGUNAN CAGAR BUDAYA GOLONGAN A DI KOTA BANDUNG

  • Victoryana J
  • Dibyo Hartono H
N/ACitations
Citations of this article
19Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Abstract - De Majestic Performing Art Building is a cultural heritage building type A in the Bandung City. The building that is located at Braga Street 1, Bandung was built in the early 1920 with the original labelled as Concordia Bioscoop. De Majestic was the first cinema that is established in the Bandung City and was the first cinema that show the first film in the city. Unfortunately, the heyday of De Majestic Building only lasted until the year of 2002, where conservation and replacement of the function were carried out. Throughout its age, this building has undergone several conservation efforts along with the times, as well as changes in the management. The changes that have been done including; Gedung Bioskop Majestic, Asia Africa Cultural Center, New Majestic, Gedung Pertunjukan De Majestic. This building also has a fairly dark history that occurred in 2008, this has caused a lot decrease in public interest in visiting and using this building. With this condition, the building has received less attention as a cultural heritage building in the city of Bandung, even though the physical condition of the building itself can be categorized as well-maintained and can still be optimized. Therefore, this research leads to an evaluation of De Majestic Building of its function in order to recreate a worthwhile study to increase the vitality and maximize the potential of the building. This study uses descriptive methods and qualitative evaluation, by examining the physical and operational conditions of De Majestic Building. After those, an analysis is also applied regarding the alignment of the area where the building stands, and the allocation of the area in accordance with the Bandung City regulations that have been set by the government. This research also refers to theories related to building conservation, principles of adaptive reuse process, regulations governing cultural heritage buildings in Indonesia. The result of this research is an idea and a new function idea that has gone through the analysis process which means it has the greatest potential to be implemented in the De Majestic Building. The selected new function idea have gone through analysis such as the define of its location, historical value, building characteristics, space requirements, and the potential of the building for the area. The existence of a new function is expected to increase the vitality of the building and interest in visiting buildings and areas, as well as restore values that have begun to fade in this modern era among the community. With the new function ideas, local and non-local people can participate in maintaining, protecting, and utilizing the existence of Cultural Heritage Buildings in the Bandung City. Keywords: Conservation, Cultural Heritage Building, Adaptive Re-Use, De Majestic BandungAbstrak - Gedung Pertunjukan De Majestic merupakan bangunan cagar budaya golongan A di Kota Bandung. Bangunan yang berlokasi di Jalan Braga no 1, Bandung ini dibangun pada tahun 1920 dengan nama pertama Concordia Bioscoop. Gedung De Majestic merupakan bioskop pertama yang berdiri di Kota Bandung, dan merupakan bioskop pertama yang menayangkan film di Kota Bandung. Sayangnya masa kejayaan dari Gedung De Majestic hanya berlangsung sampai kepada tahun 2002 yang pada akhirnya dilakukan kegiatan pelestarian dan penggantian fungsi bangunan.  Sepanjang umurnya, bangunan ini sudah mengalami beberapa kali upaya pelestarian seiring dengan perkembangan zaman, serta pergantian kepengelolaan sampai saat ini. Pelestarian terhadap Gedung De Majestic ini adalah sebuah bentuk usaha untuk mempertahankan eksistensinya. Perubahan yang telah dialami oleh Gedung De Majestic antara lain; Gedung Bioskop Majestic, Asia Africa Cultural Center, New Majestic, Gedung Pertunjukan De Majestic. Gedung De Majestic ini pun memiliki sejarah cukup kelam yang terjadi pada tahun 2008, hal ini yang menyebabkan terus menurunnya minat berkunjung dari masyarakat dan juga penggunaan bangunan ini. Dengan keadaan seperti ini, bangunan menjadi kurang mendapat perhatian sebagai bangunan cagar budaya di Kota Bandung, padahal fisik bangunan sendiri dapat dikategorikan terawat dengan baik dan masih bisa dioptimalkan. Maka dari hal tersebut, penelitian ini mengarah pada evaluasi Gedung De Majestic ini terkait dengan fungsinya guna menciptakan kajian yang solutif untuk meningkatkan vitalitas dan potensi Gedung De Majestic. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan evaluasi kualitatif, dengan mengkaji kondisi Gedung De Majestic secara fisik dan operasionalnya. Setelah itu dilakukan juga analisis terkait dengan keselarasan dengan kawasan tempat bangunan berdiri, dan peruntukkan kawasannya sesuai dengan regulasi Kota Bandung yang sudah ditetapkan pemerintah. Penelitian ini juga mengacu kepada teori – teori terkait pelestarian bangunan, prinsip – prinsip adaptive re-use, dan regulasi yang mengatur bangunan cagar budaya di Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah gagasan dan ide fungsi baru yang sudah melewati proses analisis yang berarti memiliki potensi paling besar untuk diimplementasikan kepada Gedung De Majestic. Gagasan fungsi baru yang dipilih sudah melewati proses analisis seperti lokasi, nilai sejarah, karakteristik bangunan, kebutuhan ruang, hingga potensi pada bangunan dan bagi kawasan. Adanya fungsi baru pada bangunan ini diharapkan dapat meningkatkan vitalitas bangunan dan minat berkunjung pada bangunan maupun kawasan, serta mengembalikan nilai – nilai yang sudah mulai pudar di zaman modern ini di kalangan masyarakat. Dengan adanya fungsi yang baru, kiranya dapat membuat masyarakat dalam dan luar kota dapat turut memelihara, melindungi, dan memanfaatkan keberadaan Bangunan Cagar Budaya di Kota Bandung.   Kata-kata kunci: Pelestarian, Bangunan Cagar Budaya, Adaptive Re-Use, Gedung De Majestic

Cite

CITATION STYLE

APA

Victoryana, J., & Dibyo Hartono, H. (2023). ADAPTIVE REUSE PADA GEDUNG PERTUNJUKAN DE MAJESTIC SEBAGAI BANGUNAN CAGAR BUDAYA GOLONGAN A DI KOTA BANDUNG. Riset Arsitektur (RISA), 7(02), 136–150. https://doi.org/10.26593/risa.v7i02.6601.136-150

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free