Dialektika Akal dan Wahyu: Pemikiran Filosofis Tentang Keimanan dan Ketuhanan dalam Islam

  • Alfian G
  • Latifah
N/ACitations
Citations of this article
29Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Penelitian ini membahas dialektika akal dan wahyu dalam pemahaman keimanan dan ketuhanan berdasarkan pemikiran para filsuf Islam, khususnya Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, dan Mulla Sadra. Kajian dilakukan melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat Islam tidak memposisikan akal dan wahyu sebagai dua sumber yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam memahami kebenaran ilahiah. Al-Farabi dan Ibn Sina menekankan peran akal sebagai instrumen rasional untuk mengenal Tuhan melalui pendekatan metafisik. Al-Ghazali memperlihatkan keterbatasan akal dan pentingnya wahyu serta pengalaman spiritual sebagai jalan ma’rifat. Ibn Rusyd menegaskan adanya harmoni akal dan wahyu karena keduanya berasal dari Tuhan yang sama. Mulla Sadra kemudian menawarkan sintesis yang lebih integratif melalui al-hikmah al-muta’aliyah, yang menggabungkan akal, spiritualitas, dan teks wahyu dalam pencarian kebenaran metafisik. Penelitian ini menegaskan bahwa dalam Islam, keimanan yang kukuh membutuhkan dukungan rasionalitas, dan rasionalitas sejati harus sejalan dengan kebenaran wahyu. Dialektika akal dan wahyu menjadi fondasi epistemologis yang memperkaya pemahaman teologis mengenai eksistensi Tuhan dan hakikat keimanan dalam tradisi intelektual Islam.

Cite

CITATION STYLE

APA

Alfian, Gt., & Latifah. (2025). Dialektika Akal dan Wahyu: Pemikiran Filosofis Tentang Keimanan dan Ketuhanan dalam Islam. JIS: Journal Islamic Studies, 3(3), 337–345. https://doi.org/10.71456/jis.v3i3.1525

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free