Abstract
Artikel ini membahas tentang panggilan dan keterlibatan gereja sebagai komunitas iman untuk menjadi komunitas inklusi sebagai sebuah refleksi menggreja bersama dengan penyandang disabilitas. Metode yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan. Berbicara mengenai disabilitas berarti juga berbicara mengenai tubuh dan pengalaman ketubuhan manusia. Pengalaman ketubuhan yang dimaksud bukan saja soal fisik, tetapi keutuhan manusia sebagai makhluk yang menubuh. Realita kenormalan yang menciptakan pembedaan antara “normal” dan “tidak normal” dalam masyarakat mengajak kita untuk melihat lebih dalam mengenai makna “tubuh” dalam perspektif teologis yang tidak dapat dipisahkan dari konsep Imago Dei. Pemetaan pendekatan terhadap penyandang disabilitas dapat menjadi evalusi sekaligus refleksi bagi gereja untuk melihat sejauhmana gereja hadir di tengah-tengah kehidupan bersama dengan penyandang disabilitas. Simpulan dari artikel ini menyatakan bahwa pembacaan ulang teks-teks Alkitab dalam perspektif disabilitas dengan memaknai “tubuh” secara utuh semakin menguatkan komitmen gereja untuk menghidupi panggilannya yakni menjadi komunitas inklusi yang solider dan merangkul penyandang disabilitas.
Cite
CITATION STYLE
Paruru, N. (2024). Gereja Sebagai Komunitas Inklusi. Apostolos: Journal of Theology and Christian Education, 4(2), 82–100. https://doi.org/10.52960/a.v4i2.298
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.