Abstract
Tidal flood disasters are common in coastal regions, including Pekalongan Regency. These floods are primarily caused by a rise in sea levels of 6-10 mm annually and excessive groundwater extraction, leading to land subsidence of 20 cm per year. Wonokerto Subdistrict is one of the areas most at risk of experiencing tidal floods. In the period between 2022 and 2023, five tidal flood events were recorded, severely affecting the area's social, economic, and environmental conditions. These impacts are closely tied to the social vulnerability levels in Wonokerto Subdistrict. The subdistrict also has two villages supported by the BPBD of Pekalongan Regency, that are being developed into Disaster-Resilient Villages (Destana). This study aims to evaluate the relationship between social vulnerability and community capacity in Wonokerto as a basis for tackling tidal flood disasters. The research adopts a deductive-quantitative approach and gathers both primary and secondary data. Data analysis methods used include scoring/weighting analysis, spatial analysis, and Pearson’s correlation. The findings reveal that the population density in Wonokerto Subdistrict is high, with moderate to low ratios of vulnerable groups and people with disabilities. The social vulnerability analysis shows a medium level (0.334-0.667), while the community capacity in Pecakaran Village is rated good, with Api Api and Wonokerto Kulon Villages also showing good capacity. Pearson’s correlation analysis shows a strong positive relationship (0.572). However, the significance value of (0.612 > 0.05) suggests that there is no significant correlation between social vulnerability and community capacity in managing rob floods in Wonokerto Subdistrict.Bencana banjir rob merupakan bencana yang kerap melanda daerah pesisir pantai, salah satunya Kabupaten Pekalongan. Hal yang memicu fenomena tersebut adalah kenaikan permukaan air laut per tahun mencapai 6 – 10 mm dan kegiatan penyedotan air tanah yang berakibat pada penurunan muka tanah sebesar 20 cm tiap tahunnya. Kecamatan Wonokerto menjadi salah satu daerah dengan tingkat risiko bencana banjir rob yang tinggi. Pada periode 2022-2023, tercatat lima kali kejadian banjir rob yang berdampak pada kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan setempat. Dampak tersebut berhubungan erat dengan tingkat kerentanan sosial di Kecamatan Wonokerto. Sementara itu, kecamatan tersebut memiliki dua desa binaan BPBD Kabupaten Pekalongan untuk dikembangkan menjadi Desa Tangguh Bencana (Destana). Penelitian ini dilakukan untuk menilai keterkaitan kerentanan sosial terhadap kapasitas masyarakat di Kecamatan Wonokerto sebagai salah satu referensi dalam mengurai masalah bencana banjir rob. Metode pada penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif-kuantitatif dengan metode pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder. Analisis data yang digunakan analisis skoring/pembobotan, analisis spasial, dan korelasi pearson. Hasil menunjukkan bahwa kepadatan penduduk di Kecamatan Wonokerto termasuk tinggi dengan rasio kelompok rentan dan penduduk disabilitas dalam kategori sedang dan rendah. Analisis kerentanan sosial menunjukkan nilai sedang (0,334-0,667), sedangkan kapasitas masyarakat di Desa Pecakaran cukup baik dan Desa Api Api serta Desa Wonokerto Kulon memiliki kapasitas yang baik. Analisis korelasi pearson menunjukkan hubungan positif yang kuat (0,572). Di sisi lain, nilai signifikansi (0,612 > 0,05) yang berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara kerentanan sosial terhadap kapasitas masyarakat pada bencana banjir rob di Kecamatan Wonokerto.
Cite
CITATION STYLE
Andira Aulia Kartyasa. (2024). PENILAIAN KETERKAITAN KERENTANAN SOSIAL TERHADAP KAPASITAS MASYARAKAT PADA BENCANA BANJIR ROB DI KECAMATAN WONOKERTO. Kajen: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Pembangunan, 8(01), 1–19. https://doi.org/10.54687/jurnalkajenv8i01.01
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.