Emansipasi Wanita Di Negara Islam (Pemikiran Qasim Amin Di Mesir)

  • Hasri H
N/ACitations
Citations of this article
44Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Zaman dahulu wanita selalu dianggap lemah, mengerjakan segala macam pekerjaan tidak cekatan dan tidak terampil, hanya bisa berkata boleh ataupun iya apabila kaum pria menyeuruh mereka. Tetapi sekarang, wanita dapat berkata tidak apabila ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya yang dikatakan oleh kaum pria. Itulah salah satu demokrasi yang ditonjolkan oleh wanita karena sekaranglah waktunya untuk bangkit dan berani menyuarakan aspirasi mereka. Adapun makna emansipasi wanita adalah perjuangan sejak abad ke-14 M dalam rangka memperoleh persamaan hak dan kebebasan seperti hak kaum laki-laki. Jadi para penyeru emansipasi wanita menginginkan agar para wanita disejajarkan dengan kaum pria di segala bidang kehidupan, baik dalam pendidikan, pekerjaan, perekonomian maupun dalam pemerintahan. Mesir merupakan negara Islam yang pertama menyadari hal ini, oleh karena itu orang-orang Mesirlah yang pertama mengadakan kontrak dengan dunia barat. Diantara jajaran pemikir-pemikir Islam di Mesir yang pertama memunculkan ide-ide emansipasi wanita adalah Al-Tahtawy. Tetapi pemikir yang mempunyai perhatian besar dan menghususkan dirinya untuk membicarakan hal ini adalah Qasim Amin.

Cite

CITATION STYLE

APA

Hasri, H. (2018). Emansipasi Wanita Di Negara Islam (Pemikiran Qasim Amin Di Mesir). Al-Khwarizmi: Jurnal Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, 2(2), 107–114. https://doi.org/10.24256/jpmipa.v2i2.117

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free