Abstract
Kembali kepada Alquran dan sunnah (ar-ruju’ ila al-qur’an wa sunnah) sedang masif diperjuangkan oleh banyak kalangan. Disokong melalui sosial media, penyebaran ajaran agama berkedok kebutuhan bagi sebagian golongan, di-framing sedemikian rupa sehingga menimbulkan caos tersendiri dalam tataran kehidupan masyarakat beragama. Pemahaman terhadap dua terma tersebut haruslah diiringi sikap terbuka dan saling memahami akan perbedaan sebagai hasil interpretasi terhadapnya. Merujuk pada problematika yang ada, peneliti berusaha menguraikannya melalui pendekatan post-positivisme dengan fokus diskursus tokoh muslim kenamaan bernama Yusuf al-Qardhawi, melalui karyanya berjudul as-Sunnatu Masdharan lil Ma’rifati wal Hadharati (sunnah Rasul: sumber ilmu pengetahuan dan peradaban). Hasil penelitian, mempelajari sunnah haruslah dilakukan secara jeli, dengan membedakan antara sunnah yang berdimensi hukum (tasyri’iyyah) dan sunnah yang tidak berdimensi hukum (ghairu tasyri’iyyah), mengacu pada prinsip dan metode pemahaman sunnah yang telah ditetapkan para ulama. Sebagai bentuk kehati-hatian pemahaman umat Islam terhadap sunnah, adalah keniscayaan untuk mendasarkan diri pada hasil ijtihad para ulama, terlebih orang awam dan baru berkenalan dengan sunnah
Cite
CITATION STYLE
Prabowo, H. B. D., & Jamilah, E. S. (2022). Pandangan Yusuf Al-Qardhawi Tentang Sikap Umat Islam Terhadap Sunnah Tasyri’iyyah. Islamadina : Jurnal Pemikiran Islam, 23(2), 153. https://doi.org/10.30595/islamadina.v23i2.9690
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.