Neuropati Optik Traumatik: Gambaran 13 Kasus Berdasarkan Radiologi dan Awitan Terapi Kortikosteroid di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo

  • Paramita Wijayati M
  • Nusanti S
  • Sidik M
N/ACitations
Citations of this article
13Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Introduction and Objection: Traumatic Optic Neuropathy is a rare and potentially vision-threatening condition caused by ocular or head trauma. The optic nerve axons may be damaged either directly or indirectly. The management of traumatic optic neuropathy could be observed, giving steroids or decompression. At center which optic nerve decompression is not routinely performed, high dose steroid is preferred for traumatic optic neuropathy patients. The study aims to analyze characteristics (mean age and gender, onset trauma, most symptom, visual acuity, consensual reflex as a sign), radiology feature, and onset corticosteroid therapy on patient traumatic optic neuropathy. Methods: This study was a descriptive observational case series which data retrospectively analysis from medical record. Result: From 13 cases most common gender affected were males (76,9%). The mean age group 32.85±14.67 years old with blurry vision and bleeding are the most common symptom, the onset of trauma below 24 hours (76.9%), the initial visual acuity is no light perception and hand movement with a negative consensual reflex (76.9%). Visual acuity improves with initial corticosteroid therapy below 24 hours are 7 cases and more than 24 hours are 2 cases. From 9 cases with visual acuity improvement, there are 4 cases with orbital fracture and 5 cases without orbital fracture. Conclusion: Visual improvement in our cases happened more on initial corticosteroid therapy more than 24 hours and no orbital fracture.Tujuan penelitian: neuropati optik traumatik adalah kondisi langka dan berpotensi mengancam penglihatan yang disebabkan oleh trauma mata atau kepala. Akson saraf optik dapat rusak baik secara langsung maupun tidak langsung. Penatalaksanaan neuropati optik traumatik dapat diamati, pemberian steroid atau dekompresi. Di pusat yang tidak dilakukan dekompresi, steroid dosis tinggi lebih disukai untuk pasien neuropati optik traumatik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik (usia rata-rata dan jenis kelamin, onset trauma, gejala terbanyak, ketajaman visual, refleks konsensual sebagai tanda), gambaran radiologi, dan awitan terapi kortikosteroid pada neuropati optik traumatik pasien. Metode: penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional yang datanya dianalisis secara retrospektif dari rekam medis. Hasil: dari 13 kasus jenis kelamin yang paling banyak terkena adalah laki-laki (76,9%). Rerata kelompok umur 32,85 ± 14,67 tahun dengan penglihatan kabur dan perdarahan merupakan gejala yang paling umum, timbulnya trauma dibawah 24 jam (76,9%), ketajaman penglihatan awal ada persepsi cahaya dan gerakan tangan dengan refleks konsensual negatif (76,9%). Peningkatan ketajaman penglihatan dengan terapi kortikosteroid awal dibawah 24 jam sebanyak 7 kasus dan lebih dari 24 jam sebanyak 2 kasus. Dari 9 kasus dengan perbaikan ketajaman visual, terdapat 4 kasus dengan fraktur orbital dan 5 kasus tanpa fraktur orbita. Kesimpulan: perbaikan visual dalam kasus kami lebih banyak terjadi pada terapi kortikosteroid awal lebih dari 24 jam dan tidak ada fraktur orbita.

Cite

CITATION STYLE

APA

Paramita Wijayati, M., Nusanti, S., & Sidik, M. (2021). Neuropati Optik Traumatik: Gambaran 13 Kasus Berdasarkan Radiologi dan Awitan Terapi Kortikosteroid di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Ophthalmologica Indonesiana, 47(2), 58–65. https://doi.org/10.35749/journal.v47i2.100313

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free