JURU KUNCI: KONTRADIKSI DALAM TIGA CERITA

  • Harjito H
N/ACitations
Citations of this article
14Readers
Mendeley users who have this article in their library.
Get full text

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kontradiksi yang dialami juru kunci yang terdapat dalam cerita Indonesia. Terdapat tiga cerita yang menjadi sampel dalam tulisan ini. Satu,  “Juru Kunci” karya Teguh Affandi. Dua, “Juru Kunci Makam Eyang Sakri” karya Mukti Sutarman Espe. Tiga, “Juru Kunci” karya Renny Meita Widjajanti. Juru kunci merupakan penjaga tempat keramat dan dalam tulisan ini terdapat  dua tempat keramat, yaitu makam dan sumur. Ketiga juru kunci, yaitu Mas Pon, Mbah Ban, dan Mbah Kromo. Semua juru kunci berjenis kelamin lelaki dan memiliki kontradiksi masing-masing. Pada pengalaman  Mas Pon, kontradiksi meliputi tempat. Maksudnya, makam yang dahulu dianggap keramat dan sepi, kini menjadi tempat yang banyak dikunjungi pelayat termasuk para pedagang. Makam bukan lagi tempat yang menakutkan. Kontradiksi pada Mbah Ban adalah ia menonton pertunjukkan wayang. Sementara kepada masyarakat  sekitar dan pendatang, ia menyatakan bahwa menonton wayang merupakan perilaku pantangan yang dapat mendatangkan malapetaka. Kontradiksi pada Mbah Kromo adalah ia membawa istrinya yang sakit ke rumah sakit, sementara kepada orang lain ia menganjurkan dan meyakinkan untuk menyembuhkan segala penyakit dengan meminum air sumur. Dengan gambaran tersebut, teks sastra seolah mengejek  perilaku manusia yang kontradiktif.

Cite

CITATION STYLE

APA

Harjito, H. (2018). JURU KUNCI: KONTRADIKSI DALAM TIGA CERITA. ALAYASASTRA, 14(1), 1. https://doi.org/10.36567/aly.v14i1.138

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free