Abstract
Luka terinfeksi menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan morbiditas pasien ortopedi, termasuk mempengaruhi lamanya rawat inap, biaya, kepuasan pasien, keberhasilan pasca operasi, dan komorbiditas terkait lainnya. Resistensi antibiotik menyebabkan penyembuhan luka menjadi terhambat. Tujuan penelitian ini menemukan pengobatan alternatif untuk menangani luka yang terinfeksi dengan meminimalkan penggunaan antibiotik.Disain penelitian prospektif eksperimental dengan Rancang Acak Lengkap (RAL) menggunakan 16 kelinci Selandia Baru dengan luka yang diinokulasi Staphylococcus aureus. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang hanya diberi antibiotik (A) dan kelompok yang diberi gabungan argumentum (Ag) dan LIDC (B). Hasil diperoleh pada hari ke-6 dan ke-14 dengan mengukur kadar FGF-2, FGF-7, jumlah fibroblas dan laju kontraksi luka. Data diolah secara statistik menggunakan Uji Kruskal Wallis dengan SPSS 2.0. Penelitian ini dilakukan pada September 2017 di Rumah Sakit Hasan Sadikin BandungTerdapat peningkatan yang signifikan dari kadar FGF-2, FGF-7, dan laju kontraksi luka dengan menggunakan kombinasi Ag dan listrik. Selain itu, penggunaan Ag dan kombinasi listrik dapat menekan pertumbuhan koloni bakteriPengelolaan luka terinfeksi dengan menggunakan Ag dan LIDC menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pengobatan menggunakan antibiotikKata Kunci: Argentum, FGF-2, FGF-7, LIDC, Laju Kontraksi Luka
Cite
CITATION STYLE
Ismiarto, Y. D., Kurniawati, A., & Pardamean, A. D. (2018). Perbandingan Pengaruh LIDC yang Dikombinasi Dengan Argentum dan Antibiotik Untuk Proses Penyembuhan Luka Terinfeksi. Jurnal Sistem Kesehatan, 4(1). https://doi.org/10.24198/jsk.v4i1.19183
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.