Abstract
Social capital is widely recognised as a cornerstone of inclusive development and social resilience in Indonesia. This article critically synthesises how Indonesian sociological research has conceptualised and applied social capital over the past two decades through a systematic review that adheres to PRISMA reporting standards. Searches in Google Scholar, Garuda, and DOAJ (1 January 2000 – 30 April 2024) returned 872 records; after de-duplication and screening, 41 peer-reviewed empirical articles were retained and analysed thematically. Four recurring themes emerge: (1) social capital as a driver of post-disaster community resilience; (2) its role in participatory development and village governance; (3) social capital’s ambivalent influence on exclusion and clientelism in urban–rural settings; and (4) the reconfiguration of social capital in digital environments during the COVID-19 pandemic. Theoretical orientation is dominated by Putnam (65.9 %), followed by Bourdieu (22.0 %) and Coleman (12.1 %). Although most studies highlight beneficial outcomes, only 19.5 % explicitly interrogate power, inequality, or dysfunctional social capital issues. The review confirms social capital’s explanatory reach yet underscores conceptual saturation and methodological conservatism, particularly an over-reliance on cross-sectional surveys and a paucity of intersectional or longitudinal designs. Future research should diversify theoretical frameworks, adopt mixed-methods and network-analytic approaches, and examine gendered and digital dimensions to advance Indonesian sociology’s understanding of social capital.Modal sosial secara luas diakui sebagai landasan penting bagi pembangunan inklusif dan ketahanan sosial di Indonesia. Artikel ini menyintesis secara kritis bagaimana riset sosiologis di Indonesia telah mengkonseptualisasikan dan menerapkan modal sosial selama dua dekade terakhir melalui suatu tinjauan sistematis yang mengikuti standar pelaporan PRISMA. Pencarian dalam basis data Google Scholar, Garuda, dan DOAJ (1 Januari 2000 – 30 April 2024) menghasilkan 872 dokumen; setelah proses duplikasi dan penyaringan, 41 artikel empiris yang telah melalui penelaahan sejawat dipertahankan dan dianalisis secara tematik. Empat tema utama yang berulang ditemukan: (1) modal sosial sebagai penggerak ketahanan komunitas pascabencana; (2) perannya dalam pembangunan partisipatif dan tata kelola desa; (3) pengaruh ambivalen modal sosial terhadap eksklusi sosial dan klientelisme di konteks urban dan rural; serta (4) rekonfigurasi modal sosial di lingkungan digital selama pandemi COVID-19. Orientasi teoritis didominasi oleh pendekatan Putnam (65,9 %), diikuti oleh Bourdieu (22,0 %) dan Coleman (12,1 %). Meskipun sebagian besar studi menyoroti hasil-hasil yang menguntungkan, hanya 19,5 % yang secara eksplisit mengkaji isu kekuasaan, ketimpangan, atau bentuk modal sosial yang disfungsional. Tinjauan ini menegaskan luasnya daya jelas modal sosial, namun juga menyoroti kejenuhan konseptual dan konservatisme metodologis, terutama dalam ketergantungan berlebih pada survei potong lintang dan minimnya pendekatan interseksional maupun longitudinal. Riset ke depan perlu memperluas kerangka teori, mengadopsi pendekatan campuran dan analisis jaringan, serta menelaah dimensi gender dan digital guna memperkaya pemahaman sosiologi Indonesia terhadap modal sosial.
Cite
CITATION STYLE
Herdiyanti, H. (2024). Social Capital in Sociological Perspective: A Systematic Review of Empirical Studies in Indonesia (2000–2024). Society, 12(2), 1066–1076. https://doi.org/10.33019/society.v12i2.684
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.