Abstract
Perkembangan teknologi berbanding lurus dengan kasus kejahatan siber (cybercrime),hal tersebut menjadi kunci perkembangan modus-modus dalam kejahatan siber, namun dapat dipastikan kejahatan tersebut akan meninggalkan jejak pada barang bukti, agar penyidik dapatleluasa melakukan penyidikan, barang bukti harus di duplikasi terlebih dahulu, namun hanyasedikit yang dapat berjalan pada sistem operasi linux. Tujuan penelitian ini adalah untukmelakukan analisis dan menemukan perbedaan kinerja diantara perangkat lunak forensicimaging pada sistem operasi linux tersebut dengan indikator keberhasilan duplikasi harussesuai dengan keaslian barang bukti. Metode yang digunakan static forensic sertamenggunakan kerangka kerja National Institute of Standards and Technology (NIST). Hasilpenelitian ini menemukan bahwa proses imaging FTK imager lebih cepat 2 menit 18 detik dariperangkat lunak dc3dd dan 12 detik dari DDrescue, DDrescue merupakan perangkat lunakyang menggunakan resource paling sedikit, validasi nilai hashing sha1 pada analisis hasilimaging file perangkat lunak DC3DD, DDrescue dan FTK Imager adalah sama atau valid, haltersebut membuktikan bahwa perangkat lunak tersebut mampu melakukan imaging dan dapatdigunakan untuk mengakuisisi barang bukti kasus kejahatan siber di persidangan.
Cite
CITATION STYLE
Budi putra, Yudhana, A., & Riadi, I. (2022). Analisis Kinerja Perangkat Lunak Forensic Imaging Pada Sistem Operasi Linux Menggunakan Metode Static Forensic. Insect (Informatics and Security): Jurnal Teknik Informatika, 8(1), 38–47. https://doi.org/10.33506/insect.v8i1.1962
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.