Akulturasi Budaya Pada Komunitas Virtual ‘Sobat Ambyar’

  • Sari R
  • Suprihatin S
N/ACitations
Citations of this article
66Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Belakangan ini, sapaan ‘sobat ambyar’ begitu akrab di telinga. Istilah ini digunakan untuk menyebut penggemar penyanyi lagu-lagu campursari—Didi Kempot. Mereka adalah generasi Z yang sebelumnya lebih menggilai lagulagu Barat karena dianggap merepresentasi kelas sosial tertentu. Anak-anak muda itu kini membangun komunitas virtual penggila lagu-lagu Lord Didi, sapaan sang penyanyi selain jejuluk The Godfather of Broken Heart yang disematkan oleh penggemarnya. Di banyak konser, generasi Z dengan antusias hadir, menyanyi, berjoget dan larut dalam suasana yang emosional dari liriklirik lagu Didi Kempot yang umumnya berkisah tentang patah hati. Menarik untuk mengkaji apakah terjadi akulturasi budaya Jawa melalui lirik-lirik lagu campursari yang dinyanyikan Didi Kempot, dengan budaya asing yang sebelumnya lebih digandrungi generasi milenial ini. Atau sebenarnya hal ini hanya fenomena sesaat yang kemudian luruh berbarengan waktu. Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Salah satunya yaitu penelitian tentang musik campursari yang merupakan satu bentuk akulturasi tersendiri di dunia musik. Merupakan satu fenomena di dunia musik tanah air, seorang penyanyi dengan kekhasan lagu daerah yang selama ini dianggap kelas pinggiran, ternyata mampu menarik perhatian anak-anak muda. Penelitian ini akan mengkaji akulturasi budaya yang terjadi dengan melihat relasi antara sosok Didi Kempot, lirik-lirik lagunya, dan fenomena terbentuknya komunitas virtual ‘sobat ambyar’ dengan pendekatan netnografi. Netnografi dilakukan melalui diskusi atau wawancara online yang diikuti dengan eksplorasi mendalam melalui internet. Akulturasi budaya dalam konteks ini dilihat sebagai salah satu cara untuk mengangkat kembali nilai-nilai budaya lokal dan mendekatkannya pada generasi milenial yang pada akhirnya dapat menjadi bagian dari identitas ke-Indonesia-an yang nyaris punah. Penggunaan istilah-istilah dalam komunitas merupakan jejak akulturasi yang tak bisa dianggap sebelah mata. Lord Didi, The Godfather of Brokenheart, Sadboy dan Sadgirl, adalah refleksi percampuran budaya yang tengah bekerja di antara Sobat Ambyar dan bahkan masyarakat Indonesia. Generasi Z dalam hal ini sudah berani untuk mengekspresikan identitas budaya Jawa melalui media sosial yang merupakan produk teknologi serba canggih. Meleburnya dua budaya ini menggambarkan proses lagu campursari yang dinyanyikan oleh Didi Kempot mampu diterima oleh kalangan generasi Z.

Cite

CITATION STYLE

APA

Sari, R. P., & Suprihatin, S. (2020). Akulturasi Budaya Pada Komunitas Virtual ‘Sobat Ambyar.’ CHANNEL: Jurnal Komunikasi, 8(1), 25. https://doi.org/10.12928/channel.v8i1.15058

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free