Abstract
Kaidah dasar dalam kajian fiqih muamalah adalah al-ashlu fil mu‟amalah ibahah, illa ma dalla dalilun „ala tahrimihi, maksudnya hukum asal perbuatan dalam muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Penggunaan istilah Ekonomi Islam adalah bagian dari bid‟ah agama, yang muncul pada tahun 1940-an di Negara India. Demikan menurut pendapat Timur Kuran, Profesor Ekonomi Politik, ia berpendapat sesuai dengan hasil penelitinya, membuktikan bahwa Ekonomi Islam sama sekali tidak dapat ditemukan dalam tradisi Islam. Sehingga istilah-istilah dan lembaga-lembaga bisnis sekarang yang tidak ada contoh dari Nabi dan tidak pernak ada pada zaman nabi adalah bid‟ah. Nak, lalu apakah yang dimaksud dengan bid‟ah menurut para ulama dan adakah bid‟ah-bid‟ah dalam ekonomi Islam. Hasil pembahasan menyatakan, bid‟ah adalah setiap perbuatan yang tidak ada dan tidak dilakukan pada zaman Nabi yang bertentagan dengan nash al- Qur‟an dan sunnah serta mashlahah. Melihat praktek ekonomi modern, maka banyak bid‟ah-bid‟ah dalam ekonomi Islam, diantaranya adalah istilah ekonomi Islam itu sendiri. Kegiatan dari ekonomi Islam di Indonesia yang merupakan bid‟ah adalah perbankan syariah, zakat propesi dan lainya. Secara etimologi ketiga disebut dengan bid‟ah, namun secara terminology belum dapat dikatakan bid‟ah. Sedangkan kaidah fiqih menjelasan “al-ashlu fil mu‟amalah ibahah, illa ma dalla dalilun „ala tahrimihi”, maksudnya hukum asal perbuatan dalam muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Kaedah inilah yang menutup pemaknaan kototasi buruk dari ungkapan bid‟ah, menjadi bid‟ah hasanah (baik) karena mengandung banyak kemashlahatan untuk manusia.
Cite
CITATION STYLE
Nurhadi, N. (2018). BID’AH-BID’AH DALAM EKONOMI ISLAM (Paradigma Bid’ah Ulama). Jurnal Khazanah Ulum Ekonomi Syariah (JKUES), 2(2), 56–79. https://doi.org/10.56184/jkues.v2i2.56
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.