Abstract
Agama membuka dan menyediakan wawasan tentang kebenaran iman yang absolut. Dibandingkan dengan kebenaran filsafat yang spekulatif hipotetis, tampaklah kedua macam kebenaran itu paradoks. Bahasa agama yang religius terkesan menguasai pikiran yang rasional, sedangkan bahasa filsafat yang kritis terkesan menguasai pengalaman yang empiris. Padahal, jika dilihat dari kesepasangan dan kesetimbangan, maka agama adalah sisi praktis dari filsafat dan filsafat adalah sisi rasional dari agama. Memadukan kedua bahasa itulah ditawarkan pendekatan ‘teman ngobrol’. Perlakuan bahasa semacam ini dimaksudkan hendak mengurangi ‘beban penulis’ untuk mencapai makna filosofis, tanpa meninggalkan makna agamis. Sederhananya, penulis buku Hindu disarankan memandang teks agama sebagai teman ngobrol agar lebih mudah memahami dan mengapresiasikannya dengan bahasa jurnalistik
Cite
CITATION STYLE
Sukarma, I. W. (2018). MEMAKNAI BAHASA DAN MEMBAHASAKAN MAKNA DALAM PENULISAN BUKU HINDU. VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia, 1(2), 1–6. https://doi.org/10.32795/vw.v1i2.183
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.