Abstract
Kota Bukittinggi dengan lebih kurang 132 industri kerupuk sanjai menghabiskan 300-500 Kg singkong perhari untuk setiap industri. Limbah padat hasil proses produksi kerupuk sanjai ini salah satunya adalah kulit singkong. Singkong yang dikupas menghasilkan 15-20% kulit dengan kandungan karbohidrat 68-85% dari berat keseluruhan umbi, sehingga memiliki potensi besar untuk dikonversi menjadi bioetanol. Karbohidrat pada kulit umbi dapat diolah menjadi bioetanol secara fermentasi dan untuk memisahkan bioetanol dari campuranya digunakan metoda destilasi.Suhu dan waktu destilasi yang digunakan mempengaruhi kualitas dan kuantitas bioetanol yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu dan waktu destilasi terbaik dalam menghasilkan bioetanol dengan kadar tertinggi. Analisis kadar etanol dilakukan dengan metode bobot jenis menggunakan persamaan regresi linear dan Tabel bobot jenis Farmakope Indonesia. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar etanol destilat tertinggi diperoleh pada suhu destilasi 710C selama 5 jam yaitu 16,60% menggunakan metode regresi dan 14,1% menurut Tabel Farmakope dengan Rendemen berkisar antara 2,30% - 5,80% dan efisiensi destilasi 28,94% - 57,50%. Waktu dan suhu destilasi memiliki pengaruh yang nyata terhadap kadar bioetanol yang dihasilkan pada taraf 5%
Cite
CITATION STYLE
Marjoni, Mhd. R. (2014). PEMURNIAN ETANOL HASIL FERMENTASI KULIT UMBI SINGKONG (Manihot Utilissima Pohl) DARI LIMBAH INDUSTRI KERUPUK SANJAI DI KOTA BUKITTINGGI BERDASARKAN SUHU DAN WAKTU DESTILASI. Pharmaciana, 4(2). https://doi.org/10.12928/pharmaciana.v4i2.1578
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.