Abstract
This study aims at investigating the extent to which pesantren (Islamic boarding schools) in Aceh, Indonesia have flourished in encountering multicultural situations in the wake of a massive tsunami and post-separatist military conflict through the lens of Islamic revivalism. Almost two decades after the gigantic natural disaster in 2004 and the protracted bloody conflict, Aceh underwent various changes in social, economic, political, educational, and religious areas. In the educational and religious sectors, a pivotal metamorphose took place in pesantren as a means of Islamic revival, where this Islamic boarding school has transformed into multicultural institutions. Using a qualitative design, this study observed several pesantren in Aceh, interviewed their key stakeholders, and analyzed pesantren documents. The findings show that pesantren cultures in contemporary Aceh differ from previous monolithic traditional Islamic schools in curriculum, characteristics, typology, and affiliation. This change is a unique mark of an Islamic revival following the influx of the plural Indonesian and of the world communities to Aceh after the catastrophe and violence with their heterogeneous aids and cultural settings. In addition, the implementation of sharia (Islamic) law in this special province after both tragedies confirmed the work of the Islamic revival, though many nationalists sharply criticize this sectarian and exclusive rule within multicultural countries like Indonesia. However, in this situation, pesantren in Aceh expressed a positive commitment to celebrating cultural diversity through ethnicity respect, religious tolerance, and Indonesian unity rather than endorsing the idea of an Islamic state. Kajian ini bertujuan untuk menelisik sampai sejauh mana pesantren di Aceh, Indonesia telah berkembang ketika menghadapi situasi multi kultur pascabencana besar tsunami dan pascakonflik separatis-militer melalui sudut pandang revivalisme Islam. Setelah satu setengah decade bencana tsunami pada tahun 2004 dan konflik berdarah yang berlarut-larut, Aceh mengalami banyak perubahan di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, dan agama. Berkaitan dengan segi pendidikan dan agama, perubahan penting terjadi di pesantren sebagai sebuah kebangkitan Islam, dimana sekolah Islam berasrama ini telah berubah menjadi lembaga yang multikultur. Menggunakan desain qualitative, riset ini mengamati beberapa pesantren di Aceh dan mewawancarai para pemangku kepentingan utama mereka serta menganalisis berbagai dokumen pesantren. Temuan dari kajian ini menunjukkan bahwa budaya pesantren di Aceh saat ini telah mengalami konfigurasi dalam hal kurikulum, ciri khas, tipologi, dan afiliasi dari sebelumnya yang hanya berupa sekolah dengan satu ragam Islam tradisional. Keadaaan ini merupakan satu karakter unik dari kebangkitan Islam seiring dengan masuknya masyarakat plural Indonesia dan dunia ke Aceh setelah bencana dan perselisihan dulu dengan membawa berbagai bantuan dan beraneka ragam kultur mereka. Selain itu, penerapan hukum syariah di provinsi khusus ini setelah kedua musibah tersebut menunjukkan bahwa kebangkitan Islam telah terjadi di Aceh, meskipun banyak nasionalis mengkritik dengan tajam penerapan hukum yang sektarian dan ekslusif ini di dalam negara multikultur seperti Indonesia. Namun demikian, dalam suasana ini, pesantren di Aceh menunjukkan komitmen positif untuk merayakan perbedaan dengan cara menghormati perbedaan etnis, menghargai toleransi agama, dan memilih persatuan Indonesia daripada mendukung ide negara Islam.
Author supplied keywords
Cite
CITATION STYLE
Rahman, B. A. (2022). Islamic revival and cultural diversity: Pesantren’s configuration in contemporary Aceh, Indonesia. Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, 12(1), 201–229. https://doi.org/10.18326/ijims.v12i1.201-229
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.