Abstract
Badan Bahasa mengklasifikasikan bahasa Kerinci sebagai bahasa yang stabil, tetapi terancam punah. Kepunahan suatu bahasa daerah disebabkan oleh penutur generasi muda yang mulai meninggalkan bahasa daerahnya sehingga tidak ada lagi yang mewarisi kemampuan berbahasa daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mencari sikap bahasa penutur bahasa Kerinci, penyebab dari sikap bahasa tersebut, dan memprediksi kepunahan bahasa Kerinci menggunakan sistem model persamaan diferensial. Metode yang digunakan adalah metode gabungan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa remaja di Kabupaten Kerinci dan Sungai Penuh menunjukkan sikap bahasa netral cenderung positif dengan rata-rata nilai 0,599 dari seluruh ranah. Terdapat dua faktor yang memengaruhi sikap bahasa para remaja tersebut, yaitu pengajaran bahasa Kerinci secara informal dan faktor lingkungan yang mendukung pemilihan bahasa Kerinci. Simulasi numerik mengenai kepunahan bahasa Kerinci dilakukan menggunakan model matematika dinamik dengan tiga kompartemen (penutur monolingual bahasa Kerinci, monolingual bahasa Indonesia, dan penutur bilingual) dan menambahkan faktor sikap bahasa. Nilai tiap parameter didapat dari hasil kuesioner, seperti proporsi jumlah penutur, tingkat kontak antar penutur dan sikap bahasa. Simulasi numerik dilakukan dengan metode Runge-Kutta-Fehlberg dan software Maple. Simulasi numerik menunjukkan sikap bahasa berpengaruh dalam mempertahankan populasi bilingual bahkan dapat meningkatkan populasi bilingual pada angka tertentu. Kata kunci: sikap bahasa, bahasa Kerinci, sosiolinguistik, model kepunahan bahasa, model persamaan diferensial
Cite
CITATION STYLE
Salsabila, F., Hafidi, D. U., Widianingrum, T. S., Setiawan, B., Pahlevi, R. D. A., & Darmayanti, N. (2022). Pengaruh Sikap Bahasa Penutur terhadap Kematian Bahasa Kerinci dengan Model Sistem Persamaan Diferensial. Jurnal Sosioteknologi, 21(3), 291–307. https://doi.org/10.5614/sostek.itbj.2022.21.3.6
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.