Abstract
The shifting perceptions of Generation Z and millennials toward the pillars of Islam indicate a deeper crisis of religious consciousness. For many young Muslims, the pillars of Islam are no longer perceived as sacred spiritual obligations but as personal choices shaped by emotional relevance and existential needs. This study aims to formulate a da'wah strategy that reframes the pillars of Islam as spiritual necessities rather than merely legalistic imperatives. Employing a qualitative descriptive method through library research, the study draws on classical Islamic texts, academic journals, communication theories, and framing literature. Data were analyzed using content analysis, conceptual framing, and thematic interpretation grounded in maqāṣid al-sharī‘ah. The findings reveal that a framing-based da'wah strategy enables religious narratives to be reconstructed in a more empathetic and contextual manner. Each pillar of Islam can be reframed as a response to contemporary spiritual needs, including identity formation, emotional regulation, social empathy, and inner healing. This approach remains consistent with the essence of Islamic law while aligning with its core objectives: preservation of religion, life, intellect, wealth, and lineage. The study recommends that Islamic institutions, urban pesantren, and digital da'wah practitioners adopt a maqāṣid-based framing strategy to create religious narratives that resonate with the lived experiences of Generation Z and millennials, shifting da'wah from legalistic instruction toward reflective and meaningful internalization.Abstrak Fenomena pergeseran cara pandang generasi Z dan milenial terhadap rukun Islam menunjukkan krisis kesadaran spiritual yang mendalam. Rukun Islam tidak lagi diposisikan sebagai kewajiban spiritual yang sakral, melainkan sebagai pilihan pribadi yang ditentukan oleh relevansi emosional dan kebutuhan eksistensial. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi dakwah alternatif yang mampu membingkai ulang nilai-nilai rukun Islam sebagai kebutuhan spiritual, bukan sekadar beban hukum. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis studi pustaka, dengan sumber data berupa literatur keislaman klasik, jurnal akademik, teori komunikasi, dan framing literatur. Teknik analisis dilakukan melalui analisis isi, analisis framing konseptual, dan analisis tematik berbasis maqāṣid syarīʿah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi framing dakwah mampu menyusun ulang narasi keagamaan dalam format yang lebih empatik dan kontekstual. Setiap rukun Islam dapat dikemas ulang sebagai respon terhadap kebutuhan mendasar manusia modern, seperti pencarian identitas spiritual, pengelolaan emosi, solidaritas sosial, serta kebutuhan akan penyembuhan dan refleksi diri. Pendekatan ini terbukti tidak menyimpang dari nilai-nilai syariah, karena tetap berlandaskan pada lima tujuan utama maqāṣid: ḥifẓ al-dīn, ḥifẓ al-nafs, ḥifẓ al-'aql, ḥifẓ al-māl, dan ḥifẓ al-nasl. Sebagai rekomendasi, penelitian ini menyarankan agar lembaga dakwah, pesantren perkotaan, serta praktisi media Islam mengadopsi strategi framing berbasis maqāṣid untuk membangun narasi keislaman yang sesuai dengan kebutuhan spiritual Gen Z dan milenial. Dakwah Islam perlu direformasi dari pendekatan instruktif menjadi naratif, dari legalistik menuju reflektif, agar pesan rukun Islam tidak hanya diketahui, tetapi juga diresapi secara batiniah oleh generasi digital. Kata kunci : Dakwah, Framing, Maqāṣid Syariah, Rukun Islam, Gen Z
Cite
CITATION STYLE
Rois Wicaksono. (2025). Strategi Dakwah Framing Berbasis Maqashid Syariah: Transformasi Nilai Rukun Islam sebagai Kebutuhan Spiritual bagi Gen Z dan Milenial. Iqtida : Journal of Da’wah and Communication, 5(02), 151–172. https://doi.org/10.28918/iqtida.v5i02.12300
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.