Abstract
Budaya menjadi penting bagi keberadaan suatu kelompok, karena dapat menjadi identitas dari kelompok tersebut, terutama di Indonesia. Namun, seiring perkembangan zaman, budaya tersebut mulai ditinggalkan, bahkan dilupakan. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan degradasi budaya, termasuk budaya Rembang pada saat ini. Adanya fasilitas untuk mewadahi para seniman terkait hal ini sangat diperlukan sebagai sarana edukasi dan informasi seni budaya Jawa di Kabupaten Rembang. Era new normal akibat pandemi wabah virus COVID-19, mau tidak mau akan mempengaruhi desain, seperti pertimbangan terkait protokol kesehatan dan sebagainya. Pendekatan tema yang dipakai adalah Arsitektur Hijau dengan tujuan menanggapi beberapa aspek yang timbul pasca era new normal. Lokasi obyek perancangan yaitu berada di Jl. Gajah Mada, Banyudono, Kec. Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Luas Lahan pada tapak mencapai ±17.458,3 m2 (1.7 Hektar). Tema rancangan yaitu Arsitektur Hijau yang dimaksudkan untuk menciptakan arsitektur ramah lingkungan, arsitektur alami dan pembangunan berkelanjutan. Konsep makro rancangan ramah lingkungan, tatanan lahan responsif, bentuk ekspresif dan ruang representatif, diharapkan dapat memberikan arahan perancangan sesuai dengan yang dibutuhkan.
Cite
CITATION STYLE
Agustina, Y., Hendra, F. H., & Laksono, S. H. (2021). Perancangan Pusat Seni dan Budaya Jawa Pasca Pandemi di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Tekstur (Jurnal Arsitektur), 2(2), 123–132. https://doi.org/10.31284/j.tekstur.2021.v2i2.1917
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.