Abstract
Penelitian ini mengangkat permasalahan: Pertama, faktor-faktor apa saja yang menyebabkan implementasi kebijakan pembangunan kawasan perbatasan belum bisa berjalan secara efektif? Kedua, apakah model Cross Border Approach sebagai alternatif kebijakan relevan diterapkan dalam pembangunan kawasan perbatasan, dan prasyarat apa saja yang dibutuhkannya. Penelitian ini menggunakan metode survei lapangan dengan teknik wawancara, observasi dan kajian pustaka. Model analisis dilakukan secara interaktif. Hasil penelitian ini menyimpulkan pertama, faktor-faktor yang menyebabkan model kebijakan pembangunan yang digunakan pemerintah kurang relevan dengan karakteristik kawasan diantaranya, kultur birokrasi yang masih sektoral, lemahnya wewenang badan pengelola perbatasan, inkonsistensi kebijakan teknis dengan paradigma pembangunan perbatasan, serta faktor kondisi geografis yang terisolir memerlukan penanganan yang extra-ordinary. Kedua, cross border approach cukup strategis dijadikan alternatif model kebijakan pembangunan perbatasan dengan beberapa kelebihannya, yaitu: program yang digagas saling menguntungkan kedua belah pihak, program disusun berbasis kebutuhan dan pelaksanakan program direspon dengan cepat oleh pemerintah tanpa melalui jenjang sektor yang rumit.
Cite
CITATION STYLE
Arifin, S. (2013). CROSS BORDER APPROACH SEBAGAI ALTERNATIF MODEL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KAWASAN PERBATASAN. JURNAL HUKUM IUS QUIA IUSTUM, 20(1), 37–58. https://doi.org/10.20885/iustum.vol20.iss1.art3
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.