Abstract
Tulisan ini merespon wacana pemberdayaan masjid yang bergerak secara superfisial, dengan langsung masuk pada wilayah pemebrdayaan dan produktivitas masjid tanpa menekankan pentingnya aspek realisasi pada tataran personal yang menjadi pusat perbaikan. Realisasi pada tataran personal ini menuntut menyingkap makna manusia secara filosofis dan sufistik. Berangkat dari jati diri manusia dan bentuk-bentuk manifestasinya, baru kemudian dapat menangkap makna masjid. Fungsi masjid sebagai pusat ibadah spiritual dan pendidikan umumnya terarah sebatas kajian fiqh yang berisi manual pelaksanaan ibadah syariat lahiriah. Sementara poros mental kepribadian yaitu fenomena esoterik hati manusia, tidak diletakkan pada tempat fundamentalnya. Implikasinya memperdayakan manusia yang lemah secara kepribadian, melalui ibadah, akan menemukan banyak kendala. Karena hati manusia juga harus beribadah bukan hanya fisiknya, maka hati manusia juga memiliki tempat sujud (masjid). Tulisan ini berupaya melakukan reinterpretasi makna masjid sehingga dapat menjadi prinsip fundamental bagi program perberdayaan masjid. Penelitian kualitatif kepustakaan ini menggunakan pendekatan tasawuf filosofis (mistico filosofi Islam) guna menafsirkan data-data antropologi historis.
Cite
CITATION STYLE
Nawawi, Abd. M. N. (2023). Reinterpretasi Makna Masjid: Kontribusi Ajaran Tasawuf Dalam Membagun Fungsi Positif Masjid Bagi Kemanusian. Jurnal Bimas Islam, 16(1), 1–34. https://doi.org/10.37302/jbi.v16i1.873
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.