Abstract
Lobster pasir (Panulirus homarus) merupakan salah satu komoditas laut yang memiliki nilai permintaan yang tinggi dan menjadi komoditas ekspor ke Singapura, Hongkong, Cina, Jepang, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Korea. Namun, sebagian besar lobster pasir yang diekspor masih berasal dari hasil tangkapan alam yang produktivitasnya semakin menurun. Oleh karena itu, peran usaha budidaya lobster pasir sangat diperlukan sebagai upaya untuk memenuhi permintaan lobster yang tinggi serta menjaga populasi lobster pasir di alam. Teknologi budidaya lobster pasir dapat dilakukan dalam keramba jaring apung, keramba jaring tancap maupun keramba jaring dasar/tenggelam. Sistem keramba jaring dasar/tenggelam (submersible cage) dianggap paling baik karena dapat menghindarkan organisme budidaya dari predator, fluktuasi suhu permukaan serta bahan polutan permukaan seperti sampah dan tumpahan minyak. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi sistem budidaya lobster pasir yang menggunakan keramba jaring dasar, terutama di Perairan Selat Bali. Penelitian ini dilaksanakan mulai 9 Agustus – 9 Oktober 2021 di Unit Percontohan Budidaya Lobster Sistem Keramba Jaring Dasar, Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) ”PESONA BAHARI” Banyuwangi, Jawa Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif eksploratif dan komparatif melalui pengumpulan data primer dan sekunder. Parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan dan sintasan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa secara deskriptif dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem budidaya lobster pasir dengan keramba jaring dasar berbentuk bulat di Perairan Selat Bali menunjukkan nilai SGR, FCR dan SR yang lebih tinggi dibandingkan bentuk persegi.Spiny lobster (Panulirus homarus) is one of the marine commodities that has a high demand value and export commodities to Singapore, Hong Kong, China, Japan, Thailand, Malaysia, Vietnam and Korea. However, most of the spiny lobster still comes from natural catches which these productivity is decreasing. Therefore, spiny lobster farming one of strategies to fulfil the high demand for lobster and maintain the spiny lobster population in nature. Spiny lobster cultivation technology can be carried out in floating net cages, fixed net cages and bottom/sinking net cages. The bottom cage system was to be the best methods because it can prevent cultured organisms from predators, temperature fluctuations and surface pollutants such as trash and oil spills. The objective of this study is to evaluate the spiny lobster culture system using bottom net cages, especially in the Bali Strait Waters. This research was conducted from 9 August - 9 October 2021 at the Bottom Net Cage System Lobster Cultivation Pilot Unit, ‘PESONA BAHARI’ Banyuwangi, East Java. The method used in this research is descriptive explorative and comparative through primary and secondary data collection. Parameters observed included specific growth rate, feed conversion ratio and survival rate. The data obtained were then descriptively analysed using table. The results showed that the sand lobster culture system with round bottom net cages in the Bali Strait Waters showed higher SGR, FCR and SR values than the box shape.
Cite
CITATION STYLE
Ulkhaq, M. F., & Efendi, I. (2024). Pemeliharaan Lobster Pasir (Panulirus Homarus) Menggunakan Keramba Jaring Dasar Di Perairan Selat Bali. JAGO TOLIS : Jurnal Agrokompleks Tolis, 5(1), 1–8. https://doi.org/10.56630/jago.v5i1.704
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.