Persepsi Masyarakat Mandar Terhadap Pemakaian Bentuk Sapaan dalam Kekerabatan Puang dan Daeng

  • Burhanuddin B
  • Sukri Syamsuri A
  • Munirah M
N/ACitations
Citations of this article
8Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi masyarakat Mandar tentang sapaan Puang dan Daeng dan hubungan keakraban sapaan antara Puang dan Daeng. Jenis penelitian yang ini digunakan metode pelitian deskriptif kualitatif suatu metode yang berusaha menggambarkan situasi atau gejala yang terjadi dalam keadaan nyata. Hasil penelitian bahwa persepsi masyarakat mandar tentang sapaan Puang dan Daeng yaitu sapaan Puang diberikan kepada Keturunan pemangku hadat yang membantu raja dalam menjalankan roda  pemerintahan pada masa kerajaan itulah yang dapat disapa Puang sedangkan sapaan Daeng yaitu orang yang dilantik menjadi Mara’dia (raja). Hubungan keakraban sapaan Puang dan Daeng yaitu hubungannya mulai renggang karena adanya perputaran roda pemerintahan dan menjadi faktor penyebab keakraban itu tidak harmonis dan tidak sejalan lagi karna adanya lapisan sosial yaitu ukuran kekayaan, kekuasaan dan wewenang, kehormatan dan ilmu pengetahuan tetapi masyarakat tetap menghormati kehadiran Puang dan daeng karna pernah terlibat langsung dalam pemerintahan pada masa kerajaan meski ukuran kekayaan, kekuasaan da wewenang, kehormatan, dan ilmu pengetahuan yang menjadi tolak ukur keakraban tersebut.

Cite

CITATION STYLE

APA

Burhanuddin, B., Sukri Syamsuri, A., & Munirah, M. (2021). Persepsi Masyarakat Mandar Terhadap Pemakaian Bentuk Sapaan dalam Kekerabatan Puang dan Daeng. Briliant: Jurnal Riset Dan Konseptual, 6(4), 923. https://doi.org/10.28926/briliant.v6i4.785

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free