Abstract
Indonesia dikenal memiliki banyak kekayaan budaya yang beraneka ragam. Keberagaman ini dipersatukan melalui semboyan bangsa Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Selanjutnya, semboyan ini harus terus dipertahankan dengan cara memperkenalkannya kepada anak-anak sejak usia dini. Pemanfaatan teknologi bisa dilakukan dalam memperkenalkan semboyan tersebut, yaitu melalui animasi film anak- anak. Salah satu hasil karya bangsa yang merefleksikan pluralisme dan menampilkan identitas budaya, yaitu Si Entong. Keunikan yang ditampilkan dalam Si Entong adalah karakter anak-anak yang berasal dari berbagai macam suku dan penggunaan logat bahasa. Bersandar pada teori negosiasi identitas yang dikemukakan oleh Stella Ting-Toomey, maka hasil temuan penulis pada film animasi Si Entong tersebut dielaborasi dengan metode analisis konten kualitatif Phillip Mayring. Penelitian ini berpijak pada paradigma interpretif untuk menemukan tiga elemen utama analisis konten, antara lain: abstraksi, eksplikasi, dan strukturasi. Ketiga tahapan ini diidentifikasi penulis sebagai refleksi nilai pluralisme sebagai identitas budaya Bangsa Indonesia yang tertuang dalam cerita “Si Entong”.
Cite
CITATION STYLE
Sya, M., Marta, R. F., & Hadi, I. P. (2020). REFLEKSI PLURALISME MELALUI FILM ANIMASI SI ENTONG SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA INDONESIA. Jurnal Riset Komunikasi, 3(1), 18–33. https://doi.org/10.24329/jurkom.v3i1.102
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.