Abstract
Abstract This study aims to discuss about how the practice of sharia laundry services in Arransha Langsa City? And how is the fiqh muamalah review of the practice of syari'ah laundry services in Arransha Langsa City?. This study uses qualitative methods with descriptive and empirical analysis and data collection methods by observation, interviews and documentation. The results of this study explain that the practice of Arransha sharia laundry services in Langsa City is in accordance with laundry procedures in general, but the emphasis is on the practice of Arransha sharia laundry services that have not used the overall thaharah concept. Holiness is part of faith. The condition for the validity of prayer is that the body, clothes and place of worship are clean. Based on the fiqh muamalah review of Arransha's laundry practice, it has not fulfilled the fiqh muamalah elements such as a violation of the contract stated in the bill of lading, namely compensation for goods by 50%, but in reality this is not the case. The Arransha sharia laundry party did not fulfill it as agreed. The advice that researchers can give is that the Arransha sharia laundry party should provide compensation (Dhaman) for damaged or lost consumer goods as agreed in the contract. Keywords: Rent, Syari'ah Laundry and Fiqh MuamalahPenelitian ini bertujuan untuk membahas tentang Bagaimana praktik jasa laundry syari'ah Arransha Kota Langsa? Dan Bagaimana tinjauan fiqh muamalah terhadap praktik jasa laundry syari'ah Arransha Kota Langsa?. Penelitian ini menguunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif dan empiris dan metode pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun hasil penelitian ini menjelaskan bahwa praktik jasa laundry syari'ah Arransha Kota Langsa sudah sesuai dengan prosedur laundry pada umumnya, namun Penekannya di praktik jasa laundry syariah Arransha ini belum menggunakan konsepsi thaharah secara keseluruhan. Kesucian sebagian dari iman. Syarat sah tidaknya sholat adalah suci bersih badan, pakaian dan tempat ibadah. Berdasarkan tinjauan fiqh muamalah terhadap praktik laundry Arransha, belum memenuhi unsur fiqh muamalah seperti adanya pelanggaran akad yang tertera dalam nota bon, yaitu ganti rugi barang sebesar 50%, namun kenyataannya tidak demikian. Pihak laundry syariah Arransha tidak menunaikan sebagaimana yang telah diakadkan. Saran yang dapat peneliti berikan yaitu Seharusnya pihak laundry syariah Arransha memberikan ganti rugi (Dhaman) barang konsumen yang rusak maupun hilang sebagaimana yang telah disepakati dalam akad.
Cite
CITATION STYLE
Indrayani, D. (2022). Tinjauan Fiqh Muamalah pada Praktik Sewa Jasa Laundry Syariah Arransha. Lentera, 3(2), 113–130. https://doi.org/10.32505/lentera.v3i2.3688
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.