Abstract
The Indonesian people should be proud, because Indonesian food has been named the most delicious food in the world for several years. Other nations even recognize our ancestral heritage. Indonesian traditional foods such as rendang, satay and fried rice are already well-known and recognized by other countries, but traditional snacks and cakes are still less popular in Indonesia's young generation. Throughout culinary development, we often encounter cakes like tarts, brownies, or pies compared to traditional cakes such as bugis, apem cake, bikang cake. It is not wrong if Indonesian wants to know about cakes from the west country, but we must also preserve culture as the identity of the Indonesian people in the eyes of the world. Do not let the traditional cakes that can still be found in the market have decreased. Therefore, Third Place as a forum that can be used to provide knowledge and preparation is needed in the midst of the younger generation. Third place as a space to support is needed by humans. Humans need social assistance between other humans. Lack of social connections can damage human health more than obesity, smoking, and high blood pressure. In addition to socializing, Third Place can also be made for education purposes, with the aim that all people particularly young people have knowledge of their own culture and traditional foods, especially traditional cakes.Keywords: Indonesian foods, social, third place, traditional cakesAbstrakBangsa Indonesia patut berbangga, pasalnya makanan Indonesia dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia selama beberapa tahun. Bangsa lain saja bahkan mengakui kelezatan warisan nenek moyang kita. Makanan tradisional Indonesia seperti rendang, sate, dan nasi goreng memang sudah dikenal dan diakui oleh negara lain, namun camilan dan kue tradisional masih kurang populer bahkan di generasi muda Indonesia sendiri. Seiring perkembangan kuliner, lebih sering kita temui kue-kue seperti tart, brownies, atau pie dibandingkan kue tradisional seperti kue bugis, kue apem, kue bikang. Tidak salah bila masyarakat Indonesia ingin terbuka dan mempelajari kue-kue asal barat, namun kita pun harus tetap melestarikan budaya sebagai identitas bangsa Indonesia di mata dunia. Jangan sampai kue-kue tradisional yang masih bisa ditemukan di pasar semakin menurun eksistensinya. Oleh karena itu, sebuah Third Place sebagai wadah yang dapat digunakan untuk memberikan pengetahuan dan pengenalan diperlukan di tengah-tengah generasi muda. Third Place sebagai ruang untuk berkumpul sangat diperlukan bagi manusia. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan koneksi antara manusia lain. Kurangnya koneksi sosial bahkan dapat merusak kesehatan seorang manusia lebih besar dibandingkan obesitas, rokok, dan tekanan darah tinggi. Selain untuk bersosialisasi, Third Place juga dapat dijadikan sarana untuk edukasi, dengan tujuan agar semua masyarakat terutama generasi muda memiliki pengetahuan dan mengenal budaya memasak dan makanan tradisional mereka sendiri, khususnya kue tradisional.
Cite
CITATION STYLE
Agustina, A., & Sutisna, S. (2020). RUANG KOMUNAL KUE TRADISIONAL DI SENEN. Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa), 2(2), 1639. https://doi.org/10.24912/stupa.v2i2.8503
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.