INTEGRASI ORANG MELAYU DI TAKALAR (XVI-XVII)

  • Rismawidiawati R
N/ACitations
Citations of this article
10Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Persamaan budaya yang dimiliki oleh orang Melayu dan Bugis-Makassar tak hanya melahirkan potensi perekat, tetapijuga memunculkan potensi yang dapat merenggangkan hubungan keduanya. Oleh karena itu, potensi perekatnya harus segera digali sebagai sesuatu yang tidak lahir begitu saja, melainkan telah melewati dimensi waktu yang menciptakan sejarah tersendiri di antara keduanya. Keduanya saling berinteraksi dan berintegrasi. Untuk itu, tujuan utama tulisan ini adalah mendeskripsikan proses integrasi orang Melayu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, yaitu di daerah Sanrobone, Takalar. Dengan menggunakan metodologi sejarah, tulisan ini membuktikan bahwa perkawinan merupakan cara efektif yang dijalani oleh orang Melayu dalam rangka berintegrasi dan berbaur dengan penduduk lokal. Dari perkawinan tersebut,lahir gelaran baru bagi keturunan mereka yang disebut Incek, perkawinan campuran periode berikutnya disebut tubaji, dan selanjutnya dalam berintegrasi dengan adanya mereka diberi gelar Makassar yang disebut paddaengang.

Cite

CITATION STYLE

APA

Rismawidiawati, R. (2017). INTEGRASI ORANG MELAYU DI TAKALAR (XVI-XVII). Walasuji : Jurnal Sejarah Dan Budaya, 8(2), 295–306. https://doi.org/10.36869/wjsb.v8i2.122

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free