Hubungan Tingkat Konsumsi Protein dan Vitamin A Terhadap Perubahan BTA TB Paru Setelah Pengobatan Fase Intensif di RS Paru Jember

  • Fitriana A
  • Werdiharini A
N/ACitations
Citations of this article
42Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

TB atau Tuberculosis Paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Jumlah kasus baru TB Paru di Indonesia tahun 2018 sebanyak 203.348 kasus dengan ditemukan hasil positif bakteriologis. Kegagalan konversi atau perubahan sputum BTA positif menjadi BTA negatif disebabkan oleh defisiensi zat gizi salah satunya defisiensi protein dan vitamin A. Defisiensi zat gizi protein dan vitamin A mengakibatkan penurunan jumlah sel limfosit T sehingga bakteri tetap hidup di jaringan paru dan mengakibatkan keterlambatan perubahan sputum BTA positif menjadi BTA negatif serta dapat memperlambat proses penyembuhan pasien. Limfosit T dapat ditingkatkan melalui konsumsi protein dan vitamin A. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan tingkat konsumsi protein dan vitamin A terhadap perubahan BTA TB Paru setelah pengobatan fase intensif di RS Paru Jember. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian survei analitik desain cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien TB Paru yang sudah melakukan pengobatan fase intensif sebanyak 38 pasien. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan form SQ-FFQ sedangkan pengambilan data status BTA dilakukan secara langsung dengan melihat data yang terdapat di RS Paru Jember dan Fisher Exact digunakan untuk analisis data. Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan tingkat konsumsi protein terhadap perubahan BTA (p: 0,001) dan tidak terdapat hubungan yang signifikan tingkat konsumsi vitamin A terhadap perubahan BTA (p: 0,144).

Cite

CITATION STYLE

APA

Fitriana, A., & Werdiharini, A. E. (2022). Hubungan Tingkat Konsumsi Protein dan Vitamin A Terhadap Perubahan BTA TB Paru Setelah Pengobatan Fase Intensif di RS Paru Jember. Jurnal Kesehatan, 10(3), 168–174. https://doi.org/10.25047/j-kes.v10i3.319

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free