Abstract
Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang arti dan kedudukan nyanyian Kudus dalam Perayaan Ekaristi. Kudus merupakan bagian dari nyanyian Ordinarium Missae. Dalam Perayaan Ekaristi, nyanyian ini memiliki kedudukan sangat penting dalam pengertian untuk menyatukan realitas liturgi surgawi (nyanyian para malaikat) dan liturgi insani (nyanyian Gereja- umat beriman). Kedua realitas ini sekaligus menjadi bagian integral dari elemen – elemen yang niscaya mesti ada dalam sebuah nyanyian Kudus. Sehubungan dengan ini, penulis coba menggunakan elemen – elemen ini untuk menelisik isi syair nyanyian inkulturatif bermotif Gawi-Lio, “Bhisa Gia Dhika Bina.” Untuk mendukung telaah kritis terhadap nyanyian tersebut, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan. Penulis meneliti sumber – sumber biblis, tulisan – tulisan dan dokumen – dokumen yang berkaitan dengan liturgi Gereja, buku-buku, dan artikel – artikel yang tersebar dalam pelbagai jurnal. Selanjutnya penulis membedah kedua elemen penting di atas dan akhirnya membuat telaah kritis untuk mendapatkan hasil sebagaimana dimaksud dalam judul artikel tersebut. Hasil yang diperoleh: Liturgi Gereja mengajarkan agar persekuan umat beriman yang telah dimeterai oleh Allah melalui Sakramen Pembaptisan dan kini merayakan ekaristi harus sungguh-sungguh memahami misteri yang sedang direnungkan dalam nyanyian ini. Pemahaman yang benar dan mendalam, akan memungkinkan terjadinya partisipasi umat secara aktif, sadar dan berbuah sebagaimana yang ditegaskan dalam esensi liturgi demi kemuliaan Allah dan pengudusan manusia.
Cite
CITATION STYLE
Sengga, F. Y. (2021). MENELISIK ISI SYAIR NYANYIAN “BHISA GHIA DHIKA BINA”: SEBUAH TELAAH KRITIS MENURUT PERSPEKTIF TEOLOGI MUSIK LITURGI. Atma Reksa : Jurnal Pastoral Dan Kateketik, 3(2), 84. https://doi.org/10.53949/ar.v3i2.75
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.