ALGORITMA KESALEHAN: RESEPSI DAN OTORITAS TAFSIR AL-QUR’AN POPULER DALAM DAKWAH MEDIA SOSIAL DI INDONESIA

  • Jannah M
  • Hutagalung P
N/ACitations
Citations of this article
17Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Transformasi digital telah mengubah lanskap otoritas keagamaan di Indonesia secara fundamental. Artikel ini mengeksplorasi fenomena "Algoritma Kesalehan," yaitu bagaimana algoritma media sosial (Instagram, TikTok, dan YouTube) memengaruhi resepsi masyarakat terhadap tafsir Al-Qur’an dan membentuk otoritas keagamaan baru. Menggunakan metode etnografi digital dan analisis konten terhadap narasi dakwah populer, penelitian ini menemukan adanya pergeseran dari otoritas berbasis sanad keilmuan tradisional menuju otoritas berbasis popularitas digital dan keterikatan audiens (engagement). Hasil penelitian menunjukkan bahwa algoritma cenderung mempromosikan penafsiran yang bersifat fragmen, simplistik, dan emosional (pop-tafsir), yang sering kali mengesampingkan metodologi tafsir klasik demi relevansi konten. Fenomena ini menciptakan "ruang gema" (echo chambers) yang memperkuat polarisasi pemahaman keagamaan. Meskipun mendemokratisasi akses terhadap teks suci, digitalisasi tafsir juga memicu pendangkalan makna dan fragmentasi otoritas yang menantang dominasi institusi keagamaan konvensional.

Cite

CITATION STYLE

APA

Jannah, M., & Hutagalung, P. A. (2026). ALGORITMA KESALEHAN: RESEPSI DAN OTORITAS TAFSIR AL-QUR’AN POPULER DALAM DAKWAH MEDIA SOSIAL DI INDONESIA. Jalalain: Journal of Qur’an and Hadith, 2(1), 18–23. https://doi.org/10.65802/jalalain.v2i1.125

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free