Abstract
ABSTRAK Cengkeh merupakan komoditas penting di Indonesia yang digunakan di bidang industri sebagai bahan baku pembuatan rokok kretek. Perbanyakan tanaman cengkeh dapat dilakukan secara generatif dengan menggunakan biji, namun membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghasilkan bibit dalam jumlah yang banyak. Untuk mengatasi masalah tersebut salah satu cara yang dapat ditempuh ialah melalui aplikasi kultur jaringan. Upaya pembentukan kalus cengkeh dari eksplan potongan daun telah dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako pada bulan JuniNovember 2016. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis dan konsentrasi auksin yang baik untuk induksi kalus daun cengkeh secara in vitro. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan enam level perlakuan, yaitu 0,25 ppm 2,4-D; 0,50 ppm 2,4-D; 0,75 ppm 2,4-D; 0,25 ppm NAA; 0,50 ppm NAA; dan 0,75 ppm NAA. Pengamatan dilakukan pada kecepatan atau saat muncul kalus, persentase eksplan berkalus, warna kalus, dan tekstur kalus. Data diolah menggunakan analisis ragam dan perbedaan antar-perlakuan ditentukan dengan Duncan Multiple Ranges Test (DMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menujukkan bahwa jenis dan konsentrasi auksin yang lebih baik untuk induksi kalus daun cengkeh adalah 2,4-D pada konsentrasi 0,75 ppm. Pada jenis dan konsentrasi auksin tersebut diperoleh kecepatan atau saat muncul kalus yang paling cepat, yaitu rata-rata 4,22 minggu setelah tanam (MST) dengan persentase pembentukan kalus mencapai 100%. Umumnya warna kalus berwarna putih, putih kekuningan dan kecokelatan, sedangkan tekstur kalus yang terbentuk adalah remah, kompak, dan intermediet. Kata kunci: hormon tumbuh, kultur jaringan, pembentukan kalus, syzigium aromaticum ABSTRACT Clove is an important commodity in Indonesia and it is used as a main material for cigarettes. Clove propagation can be conducted by generative method, but this method takes a long time to produce a considerable number of seedlings. To overcome such problem, it can be applied a tissue culture technique. An effort has been conducted to induce calli from sliced clove leaves and performed at Plant Biotechnology Laboratory, Faculty of Agriculture, Tadulako University from JuneNovember 2016. The aim of this experiment was to determine the most suitable type and concentration of auxins for callus induction of sliced clove leaves via in vitro culture. This experiment used a Completely Randomized Design with six treatments, namely 0.25 ppm 2.4-D; 0.50 ppm 2.4-D; 0.75 ppm 2.4-D; 0.25 ppm NAA; 0.50 ppm NAA; and 0.75 ppm NAA. Parameters observed consisted of the speed or time of appearance, the percentage, color, and texture of calli. Data were analyzed by using analysis of variance and differences between mean treatments were determined by Duncan Multiple Range Test at 5% level. The results of this experiment indicated that the type and concentration of auxin most suitable for callus induction of sliced clove leaves was culture medium supplemented with 0.75 ppm 2.4-D. In such medium composition, it was obtained the quickest callus formation, namely average 4.22 WAC with the percentage of callus formation was up to 100%. In general, the colors of calli were white, yellowish white, and brown; with the textures of formed calli were soft, compact, and intermediat.
Cite
CITATION STYLE
Rasud, Y., & Bustaman, B. (2020). In Vitro Callus Induction from Clove (Syzigium aromaticum L.) Leaves on Medium Containing Various Auxin Concentrations. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 25(1), 67–72. https://doi.org/10.18343/jipi.25.1.67
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.