Abstract
dalam perjalanan sejarah gereja, bahkan hingga saat ini, 1 Korintus 14:33b-36 sering digunakan sebagai dasar teologis untuk melarang dan membatasi keterlibatan kaum perempuan dalam pelayanan gereja, misalnya dalam gereja ortodoks, katolik, dan beberaoa gereja Protestan. untuk sekian lamanya perempuan tidak diperbolehkan menjadi pendeta, dan izin itu baru diberikan di era tahun 1990-an. Paulus sebagai rasul yang berpengaruh digunakan untuk membenarkan tindakan pembatasan tersebut. akibatnya, Paulus dianggap sebagai anti perempuan dan anti feminis, hal mana bertentangan dengan pandangannya dalam kitab Galatia 3:28. Sehubungan dengan hal itu, beberapa ahli mencoba "menyelamatkan" Paulus dengan mengatakan bahwa teks ini tidak berasal dari Paulus. Namun para ahli tafsir yang lain meyakini bahwa teks ini asli berasal dari Paulus dengan memperlihatkan beberapa hal yang menjadi ciri khas dari Rasul Paulus, antara lain melalui kata-katayang digunakan. Kajian ini akan menolong kita melihat apakah teks ini benar berasal dari Paulus atau tidak, sekaligus menunjukkan apakah Paulus anti terhadap perempuan atau tidak. pada akhirnya diharapkan terjadi perubahan pemahaman terhadap keterlibatan perempuan dalam gereja.
Cite
CITATION STYLE
Rouw, R. F., & Rouw, J. F. (2019). Paulus dan Perempuan. Jurnal Jaffray, 17(2), 171. https://doi.org/10.25278/jj.v17i2.336
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.