Abstract
Pengembangan kedelai pada pola tumpang sari merupakan salah satu peluang yang patut dikembangkan sebagai salah satu upaya peningkatan areal tanam kedelai yang semakin berkurang. Sementara itu, respons setiap varietas kedelai terhadap pola tumpang sari berbeda sehingga diperlukan varietas kedelai yang sesuai atau adaptif dengan lingkungan tumpang sari. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang betujuan untuk mengetahui respons genotipe kedelai sebagai tanaman sela pada tumpang sari dengan ubi kayu. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Jambegede, Malang pada bulan Februari−Desember 2018, pada dua lingkungan, yaitu tumpang sari (L1) dan monokultur (L2), dengan dua waktu tanam, yaitu tiga minggu setelah tanam ubi kayu (T1) dan 4 bulan setelah tanam ubi kayu (T2). Bahan yang digunakan adalah 12 galur harapan dan tiga varietas pembanding (Dena 1, Dena 2, dan Grobogan). Penyusunan perlakuan di masing-masing lingkungan didasarkan pada Rancangan Acak Kelompok yang diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons masing-masing genotipe yang diuji sebagai tanaman sela pada tumpang sari dengan ubi kayu adalah beragam, bergantung pada waktu tanam kedelai. Genotipe kedelai GH-5 dan GH-6 sesuai untuk tanaman sela pertama (T1), sedangkan GH-3 sesuai sebagai tanaman sela kedua (T2) pada tumpang sari ubi kayu+kedelai, dengan nilai indeks toleransi terhadap cekaman (ITC) lebih tinggi dan indeks sensitivitas tertimbang (IST) lebih rendah dibandingkan dengan genotipe lain yang diuji. Berdasarkan rasio kesetaraan lahan (RKL), tumpang sari ubi kayu dengan genotipe kedelai GH-5, GH-6, atau GH-3 tergolong menguntungkan (RKL>1,0).
Cite
CITATION STYLE
Sundari, T., Purwantoro, P., … Baliadi, Y. (2020). Response of Soybean Genotypes in Intercropping with Cassava. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 25(1), 129–137. https://doi.org/10.18343/jipi.25.1.129
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.